Air Dharma Menyejukkan Hati Semua Makhluk
Cetiya Daxiong Menyelenggarakan Upacara Argam Puja
Istadewata Prajna Bodhisatwa Akasagarbha
Oleh: Biksu/Biksuni Lian Yan (蓮岩法師)
Pada tanggal 16 Mei 2026, Cetiya Daxiong (大雄堂), menyelenggarakan Upacara Argam Puja Bodhisatwa Akasagarbha, secara khusus mengundang Kepala Pengawas Taiwan Lei Tsang Temple, Acarya Lian Ou (蓮歐上師) sebagai upacarika, dan didampingi oleh para Biksu/Biksuni. Cuaca pada hari upacara sangat nyaman, gerimis turun rintik-rintik, yang beresonansi dengan makna kesejukan, pembersihan, dan kesejahteraan bagi semua makhluk dari Upacara Argam Puja. Suara Dharma di lokasi terdengar merdu, Mandala tampak agung, dan khalayak berpartisipasi bersama dengan sikap hati penuh bakti, menciptakan suasana yang suci dan damai.
Cetiya Daxiong telah lama membabarkan Sadhana Tantra Zhenfo di daerah Kaohsiung, mendukung kelanjutan jiwa kebijaksanaan silsilah, sehingga aliran jernih Buddhadharma terus mengalir di Taiwan Selatan, memberikan manfaat bagi semua makhluk yang berjodoh. Meskipun karena berbagai sebab, beberapa relawan tidak dapat hadir langsung untuk membantu dalam upacara kali ini, namun di bawah pengaturan yang penuh perhatian dari tempat ibadah penyelenggara, serta adhistana welas asih dari para Buddha dan Bodhisatwa, seluruh saudara sedharma saling bekerja sama dan saling mengisi kekosongan, sehingga upacara dapat terselesaikan dengan lancar dan sempurna, menunjukkan semangat berharga dari persatuan tempat ibadah dalam melindungi Dharma dan bersama-sama mewujudkan aktivitas Buddha.
Setelah upacara, Acarya Lian Ou berwelas asih memberikan Dharmadesana yang menunjukkan bahwa Bodhisatwa Akasagarbha adalah Istadewata luar biasa yang memiliki sumber daya kebijaksanaan dan berkah yang sangat luas, pahalanya seluas dan tak terbatas seperti angkasa, mampu membangkitkan kebijaksanaan semua makhluk, meningkatkan jodoh berkah, dan juga melindungi sadhaka agar lebih stabil dan sempurna dalam kehidupan lokiya maupun bhavana lokuttara. Cetiya Daxiong menjadikan Bodhisatwa Akasagarbha sebagai Istadewata utama pada upacara kali ini, yang merupakan jodoh yang sangat luar biasa, dan juga melambangkan doa bersama dari tempat ibadah dan para saudara sedharma untuk kebijaksanaan, berkah, dan bhavana yang murni.
Dalam Dharmadesana, Acarya Lian Ou juga berbagi tentang jodoh perjalanannya ke daerah Quanzhou, Fujian beberapa waktu lalu untuk menelusuri akar leluhur. Perjalanan kali ini bertujuan untuk membantu Dharmaraja Lian Sheng dalam mencari kenangan akar leluhur yang terikat di hatinya, dan juga merupakan sebuah perjalanan penelusuran budaya dan silsilah klan yang murni dan tulus. Selama proses penelusuran, semua orang sangat merasakan bahwa, meskipun kedua sisi selat memiliki perkembangan yang berbeda karena ruang dan waktu, namun dalam bahasa, marga, kuil leluhur, silsilah keluarga, dan ikatan emosional masyarakat, masih mempertahankan kenangan bersama yang mendalam dan intim.
Penduduk setempat, setelah mengetahui bahwa rombongan datang untuk membantu menelusuri akar leluhur Dharmaraja Lian Sheng, menjadi sangat antusias membantu menghubungi para tetua, memeriksa silsilah keluarga, dan memperkenalkan asal-usul kuil leluhur. Meskipun mereka baru pertama kali bertemu, namun karena kedekatan bahasa, budaya yang saling terhubung, dan kenangan akar leluhur yang sama, dengan cepat timbul rasa keakraban yang alami. Pemandangan seperti itu tidak ada keasingan dan jarak, melainkan seperti kerabat yang bertemu kembali setelah lama berpisah, dalam sapaan yang sederhana dan bantuan yang antusias, memancarkan rasa kemanusiaan yang hangat dan berharga.
Acarya Lian Ou menyatakan bahwa perjalanan penelusuran akar ini, yang paling menyentuh hati, bukan hanya kunjungan ke kuil leluhur dan silsilah keluarga, tetapi juga melihat niat baik yang mengalir secara alami antar manusia selama proses tersebut. Bahasa yang sama, budaya yang sama, dan ingatan garis keturunan yang sama, membuat orang-orang yang awalnya asing, dalam waktu singkat memunculkan kedekatan dan kepedulian. Hal ini juga membuat semua orang lebih menyadari bahwa berasal dari akar dan sumber yang sama bukanlah sekadar slogan, melainkan perasaan nyata yang ada dalam bahasa sehari-hari, kenangan keluarga, ikatan emosional masyarakat, dan niat baik satu sama lain.
Acarya Lian Ou lebih lanjut menyatakan, agama Buddha sangat menghargai welas asih, dan juga menghargai perpaduan sebab dan kondisi. Masyarakat di kedua sisi selat memiliki hubungan sejarah dan budaya yang mendalam, banyak keluarga, marga, dan tradisi masyarakat, semuanya juga membawa ingatan tentang akar yang sama. Jika semua orang dapat memiliki lebih banyak pemahaman dalam saling menghormati, lebih banyak niat baik dalam pertukaran budaya, dan lebih banyak menghargai dalam akar yang sama, maka harapan akan perdamaian dapat menjadi lebih mendalam, dan juga secara bertahap mendekatkan jarak antar manusia.
Perdamaian yang sejati, seringkali tidak dimulai dari slogan yang muluk-muluk, melainkan dimulai dari sebersit pemikiran welas asih, sebuah pemahaman, dan sebuah sapaan yang hangat. Ketika orang-orang bersedia melepaskan prasangka, menggunakan hati yang lembut untuk melihat perasaan bersama satu sama lain, maka budaya dapat menjadi jembatan, keyakinan dapat menjadi kekuatan yang menenteramkan hati manusia, dan welas asih dapat menjadi sandaran penting untuk menjaga perdamaian.
Acarya Lian Ou mendorong umat sedharma, bhavana bukan hanya sekadar merapal mantra dan bersujud di hadapan Mandala, melainkan juga menumbuhkan hati yang welas asih, toleran, dan harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Jika dapat memandang perbedaan duniawi dengan kebijaksanaan Buddhadharma, menghargai setiap jodoh baik dengan hati welas asih, maka keyakinan tidak hanya akan memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi kekuatan murni yang menghangatkan orang lain, menenteramkan masyarakat, dan mendorong keharmonisan.
Setelah Dharmadesana usai, Acarya Lian Ou dengan welas asih menganugerahkan Abhiseka Pemberkahan Bodhisatwa Akasagarbha kepada khalayak yang hadir. Di tengah suara mantra yang lembut dan agung, semua dengan tulus beranjali, berdoa memohon Bodhisatwa Akasagarbha mengadhisthana semua makhluk agar kebijaksanaan bertambah, berkahnya lengkap, dan juga berdoa untuk ketenteraman dunia, perdamaian di kedua sisi selat, serta semua makhluk terbebas dari penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan. Upacara kali ini berakhir dengan sempurna dalam suasana yang agung, suci, harmonis, dan damai.