28 Mei 2026 Bersukacita Bersama Buddha: Dharmaraja Lian Sheng dan Gurudara Kembali Mengunjungi Air Terjun Snoqualmie
Liputan Seattle Ling Shen Ching Tze Temple / Biksu Lian Yi (釋蓮屹)
Pada sore hari tanggal 28 Mei 2026, para Ayushmat, Acarya, Biksu/Biksuni, dan umat Sedharma dari Seattle Ling Shen Ching Tze Temple dan Rainbow Temple, bersama-sama pergi bertamasya ke tempat wisata terkenal di negara bagian Washington, yaitu Air Terjun Snoqualmie (Snoqualmie Falls). Meskipun Dharmaraja Lian Sheng telah menetap di Seattle selama bertahun-tahun, namun sudah lebih dari sepuluh tahun Beliau tidak mengunjungi kembali tempat ini. Kali ini Buddha Guru dan Gurudara Acarya Lian Xiang kembali mendatangi air terjun, para siswa berkesempatan untuk mendampingi di sisi Beliau, bersama-sama menikmati angin sejuk lembah dan kabut air terjun yang beterbangan, sungguh merupakan suatu nidana yang langka.
Air Terjun Snoqualmie terletak di Lembah Snoqualmie di sebelah timur Seattle, dengan ketinggian jatuhan air sekitar 268 kaki, atau sekitar 82 meter. Aliran air menderu turun dari tebing curam, jatuh ke dasar lembah yang dalam, dengan suara yang menggelegar dan pemandangan yang megah. Nama Snoqualmie berasal dari suku penduduk asli setempat, Suku Snoqualmie menyebut diri mereka sebagai Rakyat Bulan. Bagi penduduk asli, tempat ini bukan hanya sekadar tempat wisata dengan pemandangan indah, melainkan juga tempat asal usul yang memiliki makna suci, kabut air yang naik dari air terjun dipandang sebagai saluran spiritual yang menghubungkan langit dan bumi serta membawa doa-doa.
Di tengah perjalanan menuju air terjun, karena rute berbelok sejenak, tak disangka malah tiba di Kasino Snoqualmie. Melihat hal tersebut, Buddha Guru dengan jenaka berkata, "Tidak apa-apa, ini juga tamasya." Kemudian Beliau kembali tersenyum dan berkata, mungkinkah ini dipengaruhi oleh hantu judi. Mendengar hal itu, semua orang tertawa tiada henti, selingan kecil ini malah menjadi sebuah kenangan yang santai dan menarik di dalam perjalanan.
Sepanjang jalan melewati lembah dan kota kecil, suasana hati Buddha Guru sangat baik. Melihat kontur pegunungan yang terbuka luas, Buddha Guru tersenyum dan berkata, "Mari kita pergi bermain paralayang." Sepenggal kalimat itu diucapkan dengan ringan dan bebas, membuat orang tersenyum simpul. Saat melewati bentuk pegunungan yang naik turun, Buddha Guru juga berbicara tentang fengsui, mengatakan bahwa melihat sebuah jalur naga, harus melihat kepala naga, ekor naga, dan juga harus melihat kakinya, baru bisa mengetahui bagaimana naga itu berjalan. Hanya dengan beberapa kalimat singkat, Beliau telah menjelaskan intisari fengsui dengan hidup dan menarik.
Kota kecil Snoqualmie mempertahankan pesona kuno kota pegunungan di barat laut Amerika, sejak akhir abad ke-19 terhubung erat dengan sejarah jalur kereta api, penebangan kayu, dan pembangkit listrik tenaga air, ini adalah suatu tempat yang menggabungkan pemandangan alam dan warisan budaya.
Setelah tiba di air terjun, rombongan mendatangi dek observasi bagian atas. Air terjun mengalir deras dari tebing curam, uap air menerpa wajah, seluruh lembah dipenuhi dengan suara air yang bergemuruh. Buddha Guru dalam karya tulis-Nya pernah berkali-kali menulis tentang Air Terjun Snoqualmie, menggambarkannya seperti kain sutra putih yang menggantung di udara, suara air seperti suara guntur di lembah kosong, di antara kabut terbang dan percikan air, membuat orang merasa seolah-olah semua kerisauan juga bisa hanyut terbawa air.
Bagi Buddha Guru, air terjun sejak dulu bukan hanya sekadar pemandangan. Buddha Guru pernah melihat kekuatan virya dari dalam air terjun, melihat tekad untuk terus maju tanpa gentar dari arus deras setelah hujan, dan juga pernah mengajarkan kepada para siswa untuk membentuk mudra, menjapa mantra, dan memasuki samadhi di bawah air terjun, membuat tubuh dan pikiran menyatu ke dalam air terjun, mengalami kekuatan virya yang kuat dan tak terkalahkan. Para siswa dapat mendampingi Buddha Guru kembali ke tempat ini, mendengarkan kembali suara air yang menggelegar itu, dan semakin bisa merasakan apa yang ditulis dalam karya tulis Buddha Guru, bukan hanya sekadar keindahan gunung dan air, melainkan juga kekuatan dan pencerahan seorang sadhaka saat menghadapi arus deras kehidupan.
Hari ini Buddha Guru memandang air terjun yang mengalir deras, dan dengan jenaka berkata, mau retret di sini selama tiga tahun, saat itu kesaktian sudah mencapai puncaknya, baru terbang keluar lagi. Buddha Guru kembali bercanda sambil tersenyum, lihat saja apakah bisa mendapatkan buku rahasia ilmu bela diri? Dalam drama dan novel sering ada alur cerita seperti ini, dalam novel juga ditulis tentang Kera Sakti Sun Wukong dari Gua Tirai Air di Gunung Bunga dan Buah, Benua Purvavideha. Buddha Guru menceritakannya dengan humor, khalayak ramai yang mendengar tertawa tiada henti. Air terjun itu pada dasarnya sudah spektakuler, melalui beberapa patah kata mutiara dari Buddha Guru yang indah, semakin menambah sedikit warna mitologi, kepolosan masa kecil, dan kebebasan.
Acarya Lian Qi (蓮麒上師) juga berada di lokasi menjelaskan sejarah pembangkit listrik tenaga air di bawah air terjun kepada semua peserta rombongan, membuat semua orang memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai lembah ini.
Buddha Guru juga mengenang masa kecilnya memanjat pohon untuk memetik buah, berenang di Sungai Dajia dan masa lalu lainnya, dalam percakapannya terasa hangat dan alami. Dalam kunjungan kali ini, Gurudara Acarya Lian Xiang juga memberikan kejutan. Awalnya disangka jalan pegunungan dan jalur observasi perlu berjalan perlahan, namun Gurudara malah mengerahkan tenaga sekaligus, berjalan cepat seperti terbang, bahkan mendahului semua orang. Para siswa yang mendampingi melihat hal itu, semua memuji Gurudara yang penuh semangat dan langkahnya ringan, hal ini juga menambah suasana sukacita dalam perjalanan air terjun kali ini.
Pada sore hari sekitar pukul lima, jadwal perjalanan berakhir dengan sempurna. Semua masih tenggelam dalam kemegahan air terjun dan sukacita kebersamaan guru dan siswa, namun Buddha Guru sudah mengingat untuk kembali ke Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, mengadhisthana surat-surat, melukis, serta mengurus berbagai Dharmabakti. Tamasya setengah hari yang langka ini, dalam hati Buddha Guru masih mengkhawatirkan semua makhluk, setelah bersantai sejenak, Beliau kembali pada kehidupan Pembabaran Dharma yang disiplin dan tak kenal lelah.
Dalam perjalanan pulang saat melewati kota kecil di sepanjang jalan, Buddha Guru juga menunjukkan daya ingat yang luar biasa. Meskipun bertahun-tahun belum pernah mengunjungi kembali, Beliau masih ingat dengan jelas nama kota kecil, ciri khas, dan rutenya dengan sangat mendetail. Para siswa yang mendengarkan di samping, tidak ada yang tidak memujinya.
Kain sutra putih menggantung di udara, suara air seperti suara Dharma, angin pegunungan berhembus perlahan, suara tawa masih terdengar di telinga. Para siswa pulang dengan membawa kenangan hari ini, dalam hati bangkit sukacita Dharma.