31 Mei 2026 Liputan Upacara Homa Namo Vajra Ucchusma
Laporan TBSN Lianhua Yun Shen (蓮花云紳)
Pada tanggal 31 Mei 2026, Rainbow Temple dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Homa Namo Vajra Ucchusma.
Dharmaraja terlebih dahulu mengumumkan, hari Minggu depan akan memimpin Upacara Homa Pingalakumara. Dharmaraja menyebutkan, karena Kumara duduk di atas daun teratai, maka disebut juga Kumara Daun Teratai, dapat memenuhi keinginan semua makhluk. Dharmaraja secara khusus mengungkapkan, sebelum mengundang Pingalakumara, harus terlebih dahulu mengundang ibundanya yaitu Hariti. Kumara Daun Teratai dapat mengetahui nasib, dapat mengabulkan keinginan, semua yang ada di dalam nasib, dapat Beliau karuniakan; saat Dharmaraja melakukan konsultasi, ada dua Pingalakumara yang membantu di samping.
Berbicara tentang mengetahui nasib, Dharmaraja juga menyebutkan Perhitungan Jitu Papan Besi Shao Kangjie, yang berbeda dengan meramal nasib pada umumnya, ini sebenarnya adalah verifikasi nasib, menggunakan bazi kelahiran untuk memverifikasi nasib dan peruntungan, sangat rinci dan sangat akurat. Sedangkan konsultasi Dharmaraja adalah Pingalakumara sendiri yang memeriksa dan melaporkan, oleh karena itu Pingalakumara dapat disebut sebagai leluhur peramal nasib, setelah sadhaka kontak yoga dengan Pingalakumara, sadhaka juga dapat mengetahui nasib.
Dharmaraja Lian Sheng kemudian memperkenalkan Istadewata upacara kali ini, Ucchusma Vajra. Istadewata ini sangat tersebar luas dalam Tantra Timur Jepang, mampu menghancurkan segala kekotoran, kutukan, dan guna-guna; karena memiliki energi “Yang” sangat kuat, maka disebut juga Vajra Kepala Api, Vajra Tak Terhancurkan. Selain itu, sadhaka Sadhana Ucchusma Vajra, jika memiliki keinginan memohon anak, yang dilahirkan semuanya akan berjenis kelamin laki-laki.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan
Selanjutnya memasuki sesi Anda Bertanya Saya Menjawab.
Seorang siswa dari Malaysia bertanya:
Banyak siswa Zhenfo Zong yang jarang memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Kakek Guru, beberapa bahkan baru lahir setelah Kakek Guru parinirwana. Memohon Mulacarya Dharmaraja Lian Sheng dapat menulis karya, menceritakan sedikit interaksi dengan Kakek Guru pada masa itu, agar para siswa dapat lebih mendalam memahami asal-usul Silsilah Dharma Zhenfo, dan selanjutnya tahu untuk menghargai dan mendukung; sekaligus juga dapat mempelajari proses permohonan Dharma dan pengalaman Mahaguru pada masa itu, menyerap kebijaksanaan dari sejarah.
Terhadap hal ini Dharmaraja dengan welas asih menyatakan, pada awal mula mempelajari Dharma, adalah Mahadewi Yaochi yang membukakan mata dewanya, kemudian mendapatkan transmisi Dharma langsung dari guru spiritual tak wujud Tuan San Shan Jiu Hou, kemudian mendapat petunjuk, harus mencari guru di dunia manusia. Oleh karena itu, Dharmaraja berturut-turut berguru pada Guru Pembimbing Yin Shun, Biksu Le Guo, Biksu Dao An, Acarya Pu Fang, dan para bijaksanawan agung lainnya.
Dharmaraja mengenang: Guru Thubten Dhargye, banyak dari kita yang pernah pergi ke tempatnya. Tiga hari sebelum beliau parinirwana saya masih bertemu dengannya. Setelah bertemu saya keluar, dan berkata kepada Gurudara, mungkin setelah kita kembali dari perjalanan ini, kita harus segera kembali lagi. Benar saja tiga hari kemudian Acarya berpulang. Saat pemakaman, saya segera kembali ke Hong Kong untuk mengantar Guru Thubten Dhargye pada perjalanan terakhirnya.
Beberapa Guru transmisi Dharma Tantra lainnya, salah satunya adalah Guru Sakya Zhengkong dari Vihara Sakya di Green Lake Seattle. Beliau saat itu berkata kepada saya: Saya secara diam-diam mentransmisikan Hevajra kepadamu, tapi jangan panggil nama saya, panggil saja saya Sakya Zhengkong. Dan pada tahun 1980, saya bersarana kepada Gyalwa Karmapa ke-16 di Upstate New York. Saat itu ada seorang hartawan yang membeli sebuah hotel untuk dipersembahkan kepada Karmapa ke-16, Upacara Bersarana diadakan di sana.
Adapun Biksu Liao Ming, beliau mengasingkan diri di Gunung Jiji. Itu adalah melalui petunjuk Mahadewi Yaochi dan Tuan San Shan Jiu Hou, yang menyuruh saya mencari seorang kakek yang menanam jahe di gunung dan memohon Dharma kepadanya. Saya berangkat mencari, dan benar-benar berhasil menemukannya, beliau adalah Biksu Liao Ming, juga merupakan Guru pembimbing Tantra pertama saya. Beliau adalah pewaris silsilah Guru Norlha, pada masa itu saat keduanya berada di Gunung Jinyun Sichuan sudah saling kenal, sebagai guru sekaligus sahabat.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Selanjutnya, Dharmaraja melanjutkan penjelasan secara rinci Sutra Surangama Bab Empat:
“Dari interaksi perubahan ketenangan dan lainnya. Di dalam kesempurnaan yang luhur melekat kejernihan menghasilkan pengecapan. Esensi pengecapan memantulkan rasa. Pemerasan rasa menjadi indra pengecap. Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta suci. Oleh karena itu dinamakan tubuh lidah, seperti bulan sabit awal. Keempat debu indra mengambang, mengalir dan berlari menuju rasa. Dari gesekan pemisahan dan penyatuan dan sebagainya. Di dalam kesempurnaan yang luhur melekat kejernihan menghasilkan sensasi sentuhan. Esensi sensasi memantulkan sentuhan, menggabungkan sentuhan menjadi indra peraba.”
Pengulasan Dharmaraja Lian Sheng:
Teks Sutra sekarang berbicara tentang lidah. Lidah itu sendiri digunakan untuk mengecap rasa, bentuknya seperti bulan kuartal pertama pada hari kedelapan. Apakah lidah penting dalam Tantrayana? Sangat penting! Kunci pertama dari Enam Postur Sakya adalah lidah harus menempel di langit-langit mulut. Saat melatih Air Surgawi, lidah harus menempel di langit-langit mulut, membiarkan air mengalir dari pangkal lidah, memenuhi rongga mulut, lalu gerakan berkumur dan menelannya, dengan demikian dapat melembapkan nadi dan prana di seluruh tubuh, hal ini sangat krusial.
Kekuatan lidah sangat besar, semuanya jangan meremehkannya. Jika lidah kehilangan indra perasa, bagaimana Anda akan mencicipi makanan lezat? Jika tidak memiliki indra perasa dan penciuman, mungkin bahkan benda kotor pun akan tertelan. Lidah pada dasarnya sangat hebat, bisa membedakan asam, manis, pahit, pedas, bentuknya seperti bulan kuartal pertama. Sebenarnya di dalam Sutra Amitabha juga ditulis, ketika para Tathagata dari sepuluh penjuru memuji Sukhavatiloka, semuanya menjulurkan wujud lidah lebar dan panjang, ini melambangkan bahwa yang diucapkan semuanya adalah kata-kata kebenaran.
Berciuman seperti yang dikatakan orang modern, juga merupakan salah satu fungsi lidah. Karena lidah itu sendiri memiliki rasa dan sentuhan yang halus, bukan hanya sekadar membedakan asam, manis, pahit, dan pedas saja. Tentu saja, dalam latar belakang pada masa itu, Buddha Sakyamuni tidak secara khusus menyinggung tentang masalah berciuman.
Namun, justru karena lidah memiliki indra perasa, akan membuat orang menghasilkan kemelekatan terhadap makanan. Orang duniawi sering tenggelam dalam lima keinginan yaitu harta, rupa, nama, makanan, dan tidur, makanan adalah salah satunya. Karena indra perasa pada lidah membuat orang memunculkan kesukaan dan keserakahan terhadap makanan, mati-matian mengejar rasa tersebut, maka sangat sulit untuk menolak godaan indrawi semacam itu.
Jika tidak ada lidah, tidak akan ada kelezatan apa pun yang eksis di dunia ini, jadi rasa ini sangatlah memikat. Di atas Batin Sejati Terang nan Luhur ini, bersemayam mata, telinga, hidung, dan lidah, selanjutnya akan dibahas tentang tubuh. Makhluk awam sering kali dibutakan oleh mata, telinga, indra penciuman pada hidung, serta indra perasa pada lidah. Saat Anda tersesat pada fungsi dangkal dari mata, telinga, hidung, dan lidah, maka Anda akan terlalu fokus pada indra mengambang, dan mengabaikan Batin Sejati Terang nan Luhur yang ada di dalam, lalu kemudian kehilangan jati diri, makna Sutra Buddha ada di sini.
Jadi Sang Buddha utamanya memberi tahu kita, di atas Batin Sejati Terang nan Luhur melekat hal-hal ini, kemelekatan ini merujuk pada enam indra. Orang awam hanya tahu menggunakan fungsi sensorik dari enam indra, namun tidak memperhatikan Batin Sejati Terang nan Luhur yang sesungguhnya, sehingga kehilangan hakikat kebuddhaan aslinya. Sang Buddha ingin kita memanfaatkan enam indra untuk melakukan bhavana, asalkan salah satu indra murni, kelima indra lainnya secara alami akan ikut menjadi murni, lalu mencapai keberhasilan. Meskipun fungsi dari enam indra masing-masing berbeda, namun intinya adalah satu terbagi menjadi enam, enam posisi dalam satu kesatuan. Mengenai prinsip satu indra murni, keenam indra seluruhnya murni, teks Sutra selanjutnya akan menyebutkannya lagi secara rinci.
Dharmaraja Lian Sheng selesai memberikan Dharmadesana, seluruh hadirin membalas dengan tepuk tangan meriah untuk mengungkapkan rasa syukur. Setelah itu, Dharmaraja turun dari Dharmasana dan menyapa akrab serta berinteraksi dengan siswa daring, serta mengaruniakan abhiseka berharga Sadhana Vajra Ucchusma kepada para hadirin. Upacara pun berakhir dengan sempurna dan manggala.