7 Juni 2026 Liputan Upacara Homa Pingalakumara di Rainbow Temple
Liputan TBSN Lianhua Li Hua (蓮花麗樺)
Pada tanggal 7 Juni 2026, Rainbow Temple di Seattle dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Homa Pingalakumara. Setelah Homa sempurna, Dharmaraja mengumumkan, hari Minggu depan, tanggal 14 Juni, pukul tiga sore, akan diselenggarakan Upacara Homa Bodhisatwa Mahapratisara. Dharmaraja menekankan, ketenaran dan Dharmabala Bodhisatwa Mahapratisara sangatlah besar, mampu membuat semua makhluk mendapatkan apa saja yang dimohon, bersama dengan Amoghapasa Avalokitesvara sama-sama merupakan Istadewata pengabul harapan yang paling kuat kontak batinnya di dalam Kula Avalokitesvara.
Dharmaraja mengungkapkan bahwa beliau sendiri sehari-hari sering melantunkan mantra ini, di kediaman di Taiwan juga terdapat Thangka Bodhisatwa Mahapratisara yang tergantung, menyerukan para saudara Sedharma untuk menghargai nidana yang sangat istimewa ini.
Kemarin di altar mandala upacara diatur persembahan berupa balon dan permen lolipop, Dharmaraja dengan humoris membagikan anekdot Dharmadhatu. Dharmaraja menyatakan, putra kelima ratus dari Hariti yaitu Pingalakumara (juga disebut Kumara Daun Teratai, Priyankara) menampakkan diri dan berkomunikasi, mengingatkan bahwa balon menghalangi pandangan, membuat Dharmaraja Lian Sheng dan siswa tidak dapat saling bertatap mata, sehingga segera diinstruksikan untuk disingkirkan. Dharmaraja lebih lanjut sambil tertawa mengatakan, kumara Dharmadhatu sekarang tidak bermain mobil-mobilan atau persembahan permen biasa lagi, anak-anak sekarang semua bermain AI, yang memancing tawa seluruh hadirin.
Dharmaraja Lian Sheng juga menguraikan secara rinci asal usul Hariti, pada masa itu karena Ia mencuri dan memangsa anak balita di dunia manusia, Buddha Sakyamuni menyembunyikan putra bungsunya yang paling disayangi yaitu Pingalakumara di dalam patra. Di bawah keadaan Hariti yang sedih setengah mati, Ia mendapatkan bimbingan Buddha mengenai prinsip menempatkan diri pada posisi orang lain, sejak saat itu berikrar untuk tidak lagi berlindung pada karma buruk, serta menerima penyeberangan dari siswa Buddha berupa air amerta dan persembahan makanan, menjadi Dharmapala penting dalam agama Buddha.
Pingalakumara karena mendapatkan adhistana kekuatan patra Buddha, Dharmabalanya tidak terbayangkan. Dharmaraja Lian Sheng mengungkapkan, saat Beliau sehari-hari melakukan konsultasi adalah dengan mengundang nirmanakaya Pingalakumara yang ada di atas meja untuk mencari jawaban ke mana-mana, kecepatannya sangat cepat dan maha mengetahui.
Perlindungan Kediaman
Dua Lapis Simabandhana Kokoh
Terkait tidur dan perlindungan sehari-hari bagi sadhaka, Dharmaraja membagikan dua lapis simabandhana yang wajib dilakukannya sendiri setiap hari:
Lapis simabandhana pertama (“Rang. Yang. Kang” dan Mantra Navaksara): Menggunakan Mantra Liu Ding Liu Jia dari Taoisme untuk memanggil Dewa Senapati Liu Ding Liu Jia guna melindungi, dan di angkasa menggambar lin, bing, dou, zhe, jie, zhen, lie, zai, qian Mantra Navaksara sebanyak tiga kali, berubah menjadi jaring cahaya putih yang menutupi. Juga dapat menggunakan”Rang” (api meleburkan diri sendiri), “Yang” (angin meniup menjadi kosong), “Kang” (melebur ke dalam angkasa) untuk membuat makhluk halus tidak dapat menemukan tubuh jasmani.
Lapis simabandhana kedua (jaring cahaya “Om. Ah. Hom”): Bervisualisasi cakra tenggorokan memancarkan cahaya merah, memancar ke arah angkasa dan bagian tengah dari delapan penjuru, membentuk jaring cahaya merah yang kokoh, menutupi seluruh kediaman Arama Nanshan secara menyeluruh. Ditambah lagi di pintu utama terdapat Dua Jenderal Heng Ha, di ruang tamu terdapat Hevajra, Mahadewi Yaochi, dan para Vidyaraja Vajra agung serta para Buddha dan Bodhisatwa yang tersebar rapat melindungi, makhluk halus dan roh jahat apa pun tidak dapat menyerang masuk.
Dharmaraja Lian Sheng melalui hal ini dengan sungguh-sungguh memberikan Dharmadesana, bahwa tubuh jasmani akan rusak, rumah, tanah, uang dan materi lainnya semuanya adalah wujud palsu. Inti bhavana dari Tantrayana dan Taoisme, langkah pertama harus terlebih dahulu melatih pencapaian anasrava (menarik kembali jing, jing diubah menjadi chi, chi diubah menjadi shen, shen menetap di alam semesta).
Dharmaraja Lian Sheng membagikan, saat dirinya berusia dua puluhan tahun juga pernah merasa dirinya tidak berguna, namun setelah berusia lima puluhan tahun menghabiskan waktu lima tahun untuk berhasil melatih Enam Yoga Sakya yang ditransmisikan oleh Guru Sakya Zhengkong (lidah menyentuh langit-langit mulut, menekan tenggorokan, chi yang bergerak ke atas dikeluarkan sepenuhnya, perut menempel pada punggung, mengetatkan otot anus dan mengecilkan perut bawah, keempat anggota tubuh ditarik, tangan membentuk mudra), berhasil melatih pencapaian tubuh yang murni yang, tidak bocor sedikit pun. Hanya dengan berhasil melatih pencapaian anasrava, prana menembus cakra, saat menjelang ajal baru dapat mengandalkan cahaya spiritual yang dipancarkan oleh tubuh sendiri ini untuk melebur ke dalam alam semesta, mencapai kesempurnaan pada kehidupan ini.
Masing-masing Bereinkarnasi Sesuai Nidana
Pemandangan Surga Caturmaharajika Sangat Indah
Dharmaraja memverifikasi tempat tujuan dari Acarya Lian Yin dan Acarya Lian Long yang telah tiada yang disebutkan kemarin. Di dalam Upacara, Acarya Lian Ning juga naik ke panggung untuk membagikan, dirinya pada hari Sabtu pagi bermimpi di dalam akasa terdapat cahaya yang sangat kuat (Mahaguru Lu), menunjuk ke dokumen dan mengatakan bahwa dua orang ini diseleksi keluar, tidak dapat naik ke alam suci, setelah terbangun baru menyadari bahwa hal itu persis sesuai dengan Dharmadesana Mahaguru.
Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan, Acarya Lian Yin dan Acarya Lian Long karena memiliki nidana dengan Surga Caturmaharajika, oleh karena itu tidak pergi ke Sukhavatiloka, melainkan pergi ke istana kristal dari Vaisravana di utara. Dharmaraja menekankan, Surga Caturmaharajika mutlak bukanlah tempat yang tidak baik, pemandangan di sana sangat indah, Laksmi, Sarasvati, hingga istana Gurudara juga berada di sana, merupakan sebuah dunia indah yang bahkan dipuji oleh para Buddha dan Bodhisatwa. Setiap Acarya berdasarkan daya karma dan nidana masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, sebagai contoh Acarya Lian Han sebelum meninggal juga pernah datang sambil tersenyum-senyum untuk berpamitan kepada Dharmaraja dan menyatakan akan bertumimbal lahir, sedangkan Acarya Lian Xin pernah memberi tahu Dharmaraja ke mana dirinya akan bereinkarnasi.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan
Tanya Jawab Mengupas Sadhana Anasrava dan Tingkat Pencapaian Anagami
Dalam segmen Interaksi Adalah Kekuatan yang menyusul, siswa yang berasal dari Indonesia bertanya: Di dalam buku berulang kali disebutkan tentang anasrava, apakah setara dengan tingkat pencapaian Anagami tidak kembali di dalam bhavana Hinayana, atau memiliki suatu bentuk korelasi?
Dharmaraja Lian Sheng memberikan petunjuk, Anagami berarti tidak kembali, para suciwan yang mencapai tingkat pencapaian ini setelah membuang tubuh jasmani, maka tidak lagi terlahir kembali di Sahaloka, dan Sadhana Anasrava justru merupakan fondasi paling mendasar untuk mencapai tingkat pencapaian tidak kembali ini.
Dharmaraja Lian Sheng menyatakan yang masih tiris semuanya akan jatuh, selama sadhaka masih mempertahankan tubuh jasmani yang mengalami tiris, walau hanya satu hari, maka ia masih tetap merupakan makhluk awam biasa, sangat mudah jatuh ke bawah ke dalam tiga alam rendah. Hanya dengan melatih pencapaian anasrava dan mencapai manifestasi cahaya spiritual di dalam tubuh, barulah merupakan ambang pintu untuk melangkah masuk ke dalam alam kesucian. Dikarenakan Sadhana Anasrava sangat sulit untuk berhasil dilatih, Dharmaraja juga dengan welas asih memberikan Dharmadesana sebuah jalan alternatif yang aman, apabila khalayak sadar diri bahwa dalam kehidupan ini tidak dapat melakukannya, harus dengan sepenuh hati memohon terlahir di Tanah Kediaman Bersama Makhluk Suci dan Awam di Sukhavatiloka, menerima adhistana pembersihan cahaya tak terhingga dari Buddha Amitabha, dan sesampainya di sana barulah melanjutkan bhavana.
Segera setelah itu, Dharmaraja lebih lanjut mentransmisikan kiat inti dari kultivasi ganda tubuh dan batin pada Sadhana Anasrava. Pada aspek menggerakkan prana pada tubuh, Dharmaraja secara hidup menggunakan perumpamaan menyedot air dengan sedotan, menjelaskan bahwa saat jari menekan bagian atas sedotan maka air tidak akan bocor keluar, dan menekan tenggorokan dalam Tantrayana justru adalah prinsip ini. Oleh karena itu saat momen krusial merasa esensi prana akan bocor dan hilang, sadhaka harus dengan cepat mengeluarkan prana yang bergerak ke atas dan segera menekan tenggorokan, pada saat yang bersamaan dipadukan dengan lidah menyentuh langit-langit mulut untuk menyambungkan nadi prana, dan dengan kuat mengetatkan otot anus untuk membuat prana yang bergerak ke bawah ditarik kuat ke atas, dengan paduan luar dan dalam seperti ini maka dapat mengunci prana.
Selain pelatihan olah prana pada tubuh, metode hati untuk mengubah pikiran pada aspek psikologis justru merupakan kunci keberhasilan. Dharmaraja secara khusus menekankan, pada saat sadhaka sedang menggerakkan prana, pikiran di dalam batin mutlak tidak boleh melekat atau berhenti pada kata nafsu, pada saat ini harus menggunakan daya konsentrasi yang kuat untuk melakukan pengalihan pikiran, dengan cepat memusatkan niat pikiran seratus persen pada Istadewata diri sendiri. Melalui pengubahan pikiran nafsu menjadi visualisasi yang suci terhadap Istadewata, tubuh dan batin secara alami dapat kembali pada ketenangan dan kesucian.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Intisari Sutra Surangama
Tanpa Pikiran Adalah Buddharatna Sambodhi
Menjelang akhir, Dharmaraja memberikan Dharmadesana yang luar biasa mengenai teks Sutra Surangama: “Dari dua jenis kelangsungan seperti timbul dan lenyap, di dalam kesempurnaan luhur terjadi kemelekatan pada kejernihan lalu memunculkan kesadaran, sari kesadaran mencerminkan Dharma, menggenggam Dharma menjadi indra, asal mula indra disebut sebagai empat unsur besar yang suci, karena itu dinamakan pikiran, bagai melihat di dalam ruang gelap, empat debu objek dari indra yang mengambang, mengalir liar memburu Dharma.”
Dharmaraja menunjukkan bahwa mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran dari makhluk awam semuanya adalah akar mula dari pikiran keliru dan kepalsuan, bagaikan awan hitam yang menutupi Batin Sejati Terang nan Luhur yang semula dimiliki oleh semua makhluk. Hanya dengan membersihkan kepalsuan yang melekat pada sifat batin ini dan mencapai alam tanpa pikiran, sifat batin baru dapat benar-benar memancarkan cahaya, karena tanpa pikiran adalah Buddharatna Pencerahan Benar.
Menanggapi kesulitan umum yang dihadapi oleh banyak saudara Sedharma saat meditasi atau melantunkan Sutra yaitu pikiran keliru berterbangan dan pikiran kacau tak terputus, Dharmaraja dengan welas asih menyatakan bahwa munculnya pikiran keliru saat meditasi adalah fenomena yang sangat normal. Untuk mengendalikan pikiran keliru, Buddhadharma dan Tantrayana melahirkan metode luhur menghentikan pikiran dengan pikiran. Dharmaraja mencontohkan Enam Belas Kontemplasi dari Sutra Amitayurdhyana, menjelaskan bahwa kitab suci ini sendiri telah memadukan metode visualisasi Tantrayana.
Ketika sadhaka tidak dapat segera mencapai alam tanpa pikiran, mereka harus terlebih dahulu menggunakan metode visualisasi, merapal mantra, atau memusatkan perhatian melantunkan sutra untuk menggantikan pikiran kacau duniawi. Ketika visualisasi telah mencapai tingkat paling murni dan konsentrasi mencapai titik puncak hingga menjadi satu, kemudian melangkah lebih jauh diubah menjadi tiada, maka secara logis dapat mencapai alam kesucian tanpa pikiran di mana satu pikiran pun tidak timbul, dan begitu mencapai tanpa pikiran, tubuh secara alami akan mencapai anasrava.
Dharmaraja kemudian memberikan Dharmadesana kepada khalayak mengenai dua syarat inti untuk terlahir di Sukhavatiloka, yaitu tidak boleh kekurangan akar kebajikan dan melantunkan nama Buddha dengan satu pikiran tak teracaukan. Dharmaraja menjelaskan, akar kebajikan mencakup bantuan keuangan dan pengobatan penyakit yang disebut dana duniawi, serta menyeberangkan semua makhluk yang disebut Dharmadana atau dana suci.
Sedangkan dalam hal melafal nama Buddha, kultivasi pikiran sangatlah krusial. Dharmaraja secara hidup mengumpamakan transformasi pikiran seperti proses air: pada tahap awal bhavana, pikiran yang rumit bagaikan air terjun yang menderu, seiring dengan bhavana secara bertahap mereda menjadi sungai besar, kemudian mengalir menyatu menjadi anak sungai yang tenang, dan akhirnya melebur ke dalam kondisi sunyi yang diam tidak bergerak bagaikan lubuk yang dalam, inilah yang disebut satu pikiran tak teracaukan.
Dharmaraja secara khusus mengangkat contoh terpidana mati di Penjara Changi Singapura, orang-orang yang sangat jahat tersebut karena sebelum dieksekusi membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara hingga mencapai satu pikiran tak teracaukan, pada akhirnya semua mendapatkan penjemputan welas asih dari para Buddha dan Bodhisatwa, berhasil terlahir di Buddhaksetra.
Dharmaraja Lian Sheng menggunakan hal ini untuk menyemangati khalayak, bahkan terpidana mati pun bisa melakukannya, sebagai siswa Buddha kita semua hanya perlu memperbanyak akumulasi akar kebajikan, menyingkirkan pikiran kacau saat melantunkan Sutra dan merapal mantra, pasti dan tentu saja akan dapat berhasil terlahir di alam suci.
Setelah Dharmaraja mengakhiri Dharmadesana yang luar biasa, Beliau memberikan Abhiseka Sadhana Pingalakumara kepada hadirin di lokasi, upacara selesai dengan sempurna.
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#Pingalakumara
Istadewata Homa minggu depan #BodhisatwaMahapratisara