Sukacita Bersama Buddha: Dharmaraja Lian Sheng Bersama Gurudara Mengunjungi Woodland Park Zoo
Laporan dari Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Oleh Shi Lian Yi (釋蓮屹)
Pada sore hari tanggal 18 Juni 2026, hampir seratus orang yang terdiri dari para Acarya, Biksu, Biksuni, segenap rohaniwan, dan umat Sedharma dari Seattle Ling Shen Ching Tze Temple serta Rainbow Temple, setelah menikmati makan siang bersama di wihara, bersama-sama menuju Woodland Park Zoo di Seattle untuk bertamasya. Ini merupakan pemberhentian ketiga dari seri “Sukacita Bersama Buddha” setelah Museum Seni Asia Seattle dan Air Terjun Snoqualmie.
Momen yang sangat berharga kali ini adalah keikutsertaan kerabat dekat dari Buddha Guru dan Gurudara Acarya Lian Xiang, termasuk Fo Ching, Andy, Fo Chi, Sunny, serta cucu perempuan kecil bernama Lu Yin. Buddha Guru dan Gurudara telah bekerja keras selama bertahun-tahun dengan urusan Dharmabakti sehari-hari yang sangat padat, sehingga jarang memiliki kesempatan untuk bertamasya bersama keluarga tercinta. Hari ini, bukan hanya para siswa yang mendampingi Buddha Guru dalam perjalanan tamasya, melainkan juga sebuah momen berkumpulnya keluarga yang langka dan penuh kehangatan.
Woodland Park Zoo terletak di bagian utara Seattle dan merupakan kawasan edukasi alam serta konservasi satwa liar yang terkenal di Negara Bagian Washington. Area kebun binatang ini dipenuhi pepohonan rimbun dan areanya sangat luas, dengan zona pameran yang dirancang berdasarkan lingkungan geografis yang berbeda, memungkinkan para pengunjung untuk mendekatkan diri dengan ekologi satwa dari seluruh dunia meskipun berada di dalam kota. Hari ini, rombongan terutama mengunjungi Zona Satwa Afrika. Buddha Guru dan Gurudara berjalan perlahan dengan didampingi oleh semua orang dalam suasana yang santai dan penuh sukacita.
Dalam perjalanan berangkat, Buddha Guru berada dalam suasana hati yang sangat baik dan berseru sambil tersenyum, “Tamasya! Tamasya!” Kata-kata ini seketika menularkan kepolosan kekanak-kanakan dan kegembiraan kepada semua orang di dalam mobil. Buddha Guru juga berkata dengan jenaka, “Kita pergi untuk dilihat oleh hewan.” Semua orang pun tersenyum mendengarnya, menambah suasana santai pada perjalanan tersebut.
Bahkan di tengah perjalanan tamasya, Buddha Guru tetap memperhatikan detail di sekelilingnya. Selama di perjalanan, Buddha Guru menunjukkan kepedulian terhadap desain trotoar jalan apakah dapat dengan mudah menyebabkan senggolan atau tabrakan, serta memperhatikan beberapa konfigurasi lampu lalu lintas yang tampak unik.
Di sepanjang jalan, Buddha Guru juga mengenang masa-masa sulit dalam kehidupannya di Seattle pada tahun-tahun awal. Mulai dari kisah masa lalu di daerah Ballard dan Green Lake, hingga masa-masa serba kekurangan, ketika beliau pernah memakan apel busuk yang dibuang oleh toko Lucky. Buddha Guru menceritakannya dengan detail bahwa kehidupan pada saat itu sungguh tidak mudah. Hari ini para siswa mendampingi di samping beliau dan mendengar Buddha Guru berbicara tentang masa lalu ini, sehingga merasa sangat dekat dan hangat.
Saat melihat rumah apung, Gurudara berguyon sambil tersenyum bahwa beliau sama sekali tidak ingin tinggal di rumah seperti itu, karena jika berjalan sambil tidur di tengah malam, dikhawatirkan akan tercebur ke dalam air. Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengarnya, membuat perjalanan mobil selama setengah jam menjadi terasa lebih singkat dan menyenangkan.
Hari ini, Buddha Guru secara khusus mengenakan topi bambu berbentuk ninja Jepang. Buddha Guru berkata bahwa ini melambangkan Dua Orang Berjalan Bersama dari Guru Agung Kukai. Di atas topi bambu tersebut, Buddha Guru bahkan membubuhkan dua tanda tangan beliau sendiri, lalu bersenda gurau menyebutnya sebagai diri sendiri menandatangani diri sendiri. Ucapan ini sekilas terdengar seperti lelucon, namun sebenarnya mengandung makna Zen yang mendalam, membuat mereka yang mendengarnya tersenyum paham.
Setelah memasuki kebun binatang, seluruh rombongan berjalan menyusuri jalan setapak menuju Zona Satwa Afrika. Area taman yang sangat luas dengan jalan setapak yang berkelok-kelok membuat iring-iringan besar rombongan yang berjalan bersama menjadi sebuah pemandangan yang luar biasa dan langka.
Acarya Lian Qi di sepanjang jalan memperkenalkan karakteristik berbagai satwa kepada semua orang, mulai dari kebiasaan hewan, cara bertahan hidup, hingga perbedaan morfologi antar spesies yang berbeda. Hal ini memberikan pemandangan dan pemahaman yang lebih mendalam bagi semua orang mengenai satwa yang mereka lihat.
Sepanjang jalan, Buddha Guru sesekali menggandeng tangan anak-anak dari para umat Sedharma, bercanda dengan anak-anak, dan bersama-sama memandangi hewan dengan penuh rasa ingin tahu.
Saat melewati berbagai zona pameran, Buddha Guru tidak hanya mengamati hewan, tetapi juga berbicara dan bersenda gurau dengan para siswa. Saat melihat harimau, semua orang membicarakan kelucuan tentang harimau betina; saat melihat kura-kura, Buddha Guru pun mengambil kesempatan untuk membahas prinsip tentang usia.
Buddha Guru berkata, kelinci sangat aktif, berlari dengan sangat cepat, dan memiliki banyak aktivitas fisik, tetapi usianya tidak panjang; kura-kura tampak jarang bergerak, tetapi bisa berumur panjang, bahkan ada yang hidup lebih dari seratus tahun. Buddha Guru lebih lanjut menyebutkan, jika sadhaka dapat mempelajari metode pernapasan kura-kura, akan sangat bermanfaat bagi bhavana dan pemeliharaan kesehatan. Hanya dengan beberapa patah kata, Beliau beralih dari membahas kebiasaan hewan menuju pernapasan, umur panjang, dan jalan bhavana.
Ketika Buddha Guru melihat flamingo, beliau juga berbicara tentang latihan yoga yang rutin dilakukannya, melatih kaki layaknya bangau berdiri, mengangkat satu kaki layaknya tiang pancang, serta mempraktikkan gerakan mengayuh sepeda di udara, di mana setiap hari beliau rutin melakukan yoga selama satu jam. Postur flamingo yang berdiri dengan satu kaki, selaras dengan latihan kaki yoga yang disebutkan oleh Buddha Guru, sehingga menjadi perbincangan yang menarik. Buddha Guru juga menyebutkan bahwa beliau sendiri berjalan puluhan ribu langkah tanpa merasa lelah. Ketika ada umat Sedharma yang berkata bahwa aktivitas fisik hari ini sudah cukup, Buddha Guru justru berkata bahwa setelah pulang ke rumah tetap harus berlatih yoga dan tidak boleh malas.
Buddha Guru selalu memperhatikan para siswa di sekelilingnya. Dalam perjalanan, Buddha Guru akan mengambil kesempatan untuk menyapa hangat dan menanyakan kabar para siswa, mempedulikan kondisi kesehatan siswa, bahkan menanyakan apakah kekuatan kaki mereka masih sanggup untuk terus berjalan. Walaupun berjalan bersama dengan hampir seratus orang merupakan rombongan yang besar, Buddha Guru tetap memperhatikan kondisi para siswa secara individu. Perhatian yang tulus ini tidak berada di atas Dharmasana yang resmi, melainkan terpancar secara alami di sela-sela langkah perjalanan.
Pada hari ini, di Woodland Park Zoo, para hewan berdiam dengan damai di habitat mereka masing-masing, sementara Buddha Guru menggunakan satu per satu hewan tersebut sebagai topik untuk berbicara mengenai kesehatan, bhavana, dan kehidupan. Selama tiga setengah jam perjalanan di antara pepohonan hijau yang rindang, senyum malu-malu cucu perempuan kecil Lu Yin, tangan mungil anak-anak yang digandeng, serta beberapa lelucon yang dilontarkan oleh Buddha Guru, semuanya menjadi sebuah kenangan hangat di hati setiap orang. Apa yang disebut sebagai bersukacita bersama Buddha, mungkin perwujudannya tepat di sore hari yang biasa ini, dapat berjalan bersama Buddha Guru dan Gurudara dalam satu perjalanan, dan di tengah gelak tawa serta kepedulian yang hangat, membawa pulang sebuah kegembiraan yang akan terus berbekas untuk waktu yang sangat lama.