4 Juli 2026 Liputan Pujabakti Sadhana Istadewata Jambhala Kuning di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Oleh: Lianhua Shu Guan (蓮花淑觀)
Pada Sabtu, 4 Juli 2026 pukul delapan malam, dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple Amerika Serikat untuk memimpin pujabakti Sadhana Istadewata Jambhala Kuning. Karena perayaan ulang tahun Dharmaraja Lian Sheng pada tanggal 2 Juli (tanggal 18 bulan 5 Imlek) baru saja berlalu, dan kebetulan bertepatan dengan libur panjang akhir pekan hari kemerdekaan Amerika Serikat, baktisala dipenuhi oleh banyak umat dari berbagai negara di dunia.
Untuk merayakan hari raya ini, Dharmaraja Lian Sheng secara khusus mengundang umat yang hadir untuk naik ke atas panggung menyanyi. Saudara sedharma A Shan (阿山師兄) dari Singapura, Acarya Lian Xi (蓮喜上師), dan saudari sedharma Li Fei (麗妃師姐), secara berturut-turut membawakan nyanyian luar biasa yang memadukan bahasa langit dan lagu langit. Dharmaraja Lian Sheng juga mengikuti suasana hati, menyanyikan lagu langit yang sudah sangat akrab di telinga umat, dan memuji melodi Dharma suara langit yang murni ini, yang lebih bermakna daripada suara ledakan kembang api yang langsung menghilang, serta lebih mampu membawa kedamaian dan sukacita pada batin umat.
◎ Anda Bertanya Saya Menjawab
Selanjutnya memasuki sesi Anda Bertanya Saya Menjawab.
Siswa bertanya: Mengenai arah dan waktu menjemput Dewa Rezeki di masa depan, bagaimana siswa generasi mendatang bisa menentukannya?
Dharmaraja Lian Sheng menjawab: Meskipun arah tempat kediaman Dewa Rezeki setiap tahun mungkin berbeda, namun secara keseluruhan, dalam tradisi Tantra, utara adalah arah utama tempat tinggal Dewa Rezeki (seperti Vaisravana Jambhala Kuning). Jika Anda tidak dapat membedakan arah menjemput Dewa Rezeki, arah ke utara saja sudah cukup.
Mengenai waktu menyambut Dewa Rezeki, dipilih pada saat matahari baru terbit, pada saat itu bulan sebagian besar belum purnama penuh, namun terus menuju purnama. Ini adalah saat di mana unsur Yang kembali pulih, pilihlah waktu ini untuk menjemput dewa rezeki.
Siswa bertanya: Alat puja dan pratima yang dipuja oleh umat senior yang telah menggunakannya, setelah ia meninggal, bagaimana cara menanganannya? Saya juga pernah menerima alat puja yang pernah digunakan oleh umat yang telah mundur Bodhicitta-nya, jika ada umat yang menggunakan alat puja ini, apakah akan ada nidana yang tidak baik?
Dharmaraja Lian Sheng menjawab: Segala hal yang berwujud adalah palsu, intinya ada pada hati Anda sendiri. Tidak akan ada nidana yang tidak baik, jika Anda merasa tidak tenang, bersihkan saja, lewati di atas api. Alat puja tersebut dibersihkan dengan dilewatkan di atas api homa sebentar (melewati api), atau melewati asap dupa juga bisa, setelah melakukan ritual pembersihan ini, dapat terus digunakan.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Selanjutnya, Dharmaraja Lian Sheng mengulas Sutra Surangama Bab 4.
“Buddha memberi tahu Ananda: ‘Engkau banyak mendengar dan belajar, namun belum mengakhiri semua tiris, di dalam hati hanya mengetahui penyebab delusi, namun saat delusi nyata muncul di hadapan, sungguh belum dapat mengenalinya. Khawatir hatimu yang tulus masih belum meyakini dan tunduk, sekarang Aku akan mencoba menggunakan berbagai hal duniawi, untuk menghalau keraguanmu.’”
Buddha berkata kepada Ananda: “Meskipun engkau paling banyak mendengar Buddhadharma, namun belum merealisasikan asravaksayajnana, hatimu meskipun tahu apa itu delusi khayalan, namun ketika delusi yang sesungguhnya muncul di hadapan, engkau malah tidak bisa mengenalinya. Sekarang Aku menggunakan hal-hal duniawi sebagai perumpamaan, untuk menghilangkan keraguan di dalam hatimu.”
“Saat itu juga Tathagata memerintahkan Rahula untuk memukul genta satu kali, lalu bertanya kepada Ananda: ‘Apakah engkau mendengarnya sekarang?’”
Maka Buddha memerintahkan Rahula memukul genta (Dharmaraja Lian Sheng langsung membunyikan genta vajra sebagai peragaan). Buddha bertanya: “Apakah sudah dengar?”
“Ananda dan semua orang serentak berkata: ‘Saya mendengarnya.’”
Ananda dan semua orang menjawab: “Sudah mendengarnya.”
“Genta berhenti dan tidak bersuara, Buddha bertanya lagi: ‘Apakah engkau mendengarnya sekarang?’”
Setelah suara genta sunyi, Buddha bertanya lagi: “Apakah mendengarnya?”
“Ananda dan semua orang serentak berkata: ‘Tidak dengar.’”
Ananda dan semua orang menjawab: “Tidak terdengar lagi.”
“Saat itu Rahula memukul satu kali lagi, Buddha bertanya lagi: ‘Apakah engkau mendengarnya sekarang.’”
Pada saat ini Rahula memukul satu kali lagi, Buddha bertanya lagi: “Apakah kalian sudah dengar?”
“Ananda dan semua orang berkata: ‘Kita semua mendengar.’”
Ananda dan semua orang berkata: “Kami semua sudah dengar.”
“Buddha bertanya kepada Ananda: ‘Apa yang engkau sebut mendengar? Apa yang disebut tidak mendengar?’”
Buddha bertanya kepada Arya Ananda: “Apa yang dinamakan mendengar? Apa yang dinamakan tidak mendengar?”
“Ananda dan semua orang serentak berkata kepada Buddha: ‘Jika suara genta dipukul, maka saya bisa mendengar, setelah beberapa saat, suara menghilang, baik suara maupun gema keduanya lenyap, maka dinamakan tidak mendengar.’”
Ananda dan semua orang berkata kepada Buddha: “Jika suara genta dipukul, kami semua mendengar, namun setelah lama, suara dan gemanya sudah tidak ada, dinamakan tidak mendengar.”
“Tathagata meminta Rahula memukul genta lagi, bertanya kepada Ananda: ‘Apakah sekarang ada suara?’”
Buddha meminta Rahula memukul genta lagi, bertanya kepada Ananda: “Apakah ada suara?”
“Ananda dan semua orang bersama-sama menjawab: ‘Ada suara.’”
Ananda dan semua orang berkata: “Ada suara.”
“Sesaat kemudian suara menghilang, Buddha bertanya lagi: ‘Apakah sekarang ada suara?’”
Tiba-tiba suara menghilang lagi, Buddha bertanya lagi: “Sekarang, bagaimana dengan suaranya?”
“Ananda dan semua orang, menjawab: ‘Tidak ada suara.’”
Ananda dan semua orang menjawab: “Sekarang tidak ada suara lagi.”
“Tidak lama, Rahula datang memukul genta lagi, Buddha bertanya lagi: ‘Apakah sekarang ada suara?’”
Setelah menunggu sebentar, Rahula datang memukul genta lagi, Buddha bertanya lagi: “Sekarang apakah ada suara?”
“Ananda dan semua orang bersama-sama berkata: ‘Ada suara.’”
Ananda dan semua orang berkata: “Ada suara.”
“Buddha bertanya kepada Ananda: ‘Apa yang engkau sebut suara? Apa yang disebut tidak ada suara?’”
Buddha bertanya kepada Arya Ananda: “Mengapa engkau sebentar bilang ada suara? Sebentar bilang tidak ada suara?”
“Ananda dan semua orang bersama-sama berkata kepada Buddha: ‘Jika genta dipukul, maka dinamakan ada suara, telah lama dipukul suara menghilang, baik suara maupun gema keduanya lenyap, maka dinamakan tidak ada suara.’”
Ananda dan semua orang berkata: “Jika genta dipukul, maka dinamakan ada suara, tetapi ketika suara ini telah lewat cukup lama, suara dan gemanya sama sekali tidak ada, maka disebut tidak ada suara.”
“Buddha berkata kepada Ananda dan semua orang: ‘Mengapa sekarang ucapan kalian mengacaukan diri sendiri?’”
Buddha memberi tahu Ananda dan semua orang: “Apa yang kalian katakan sekarang semuanya kacau, sudah merupakan delusi khayalan.”
Semua orang dan Ananda pada saat bersamaan bertanya kepada Buddha: “Mengapa kami sekarang dinamakan mengacaukan diri sendiri?”
Semua orang dan Arya Ananda, pada saat ini semuanya bertanya kepada Buddha Sakyamuni: “Kami hari ini berkata demikian letak delusi khayalannya ada di mana?”
Buddha berkata: “Aku bertanya apa engkau mendengar, engkau lalu berkata mendengar, bertanya lagi apakah ada suara, engkau lalu berkata ada suara, hanya mengenai mendengar dan suara, jawaban tidak menentu, hal yang demikian bagaimana tidak dinamakan mengacaukan diri sendiri?”
Buddha berkata: “Aku bertanya apakah kalian mendengar? Kalian menjawab ada mendengar, Aku bertanya tentang suara ini kepada kalian, kalian menjawab ada suara, namun ini adalah jawaban yang tidak menentu, kalian sebentar menjawab ada, sebentar menjawab tidak ada, inilah yang namanya delusi khayalan.”
“Ananda, suara hilang dan gema tiada, engkau berkata tidak mendengar, jika sungguh tidak mendengar, sifat mendengar telah lenyap, sama halnya dengan kayu kering, saat genta dipukul lagi, bagaimana engkau bisa tahu? Mengetahui ada dan mengetahui tiada, itu adalah debu suara yang kadang tiada atau kadang ada, mana mungkin sifat mendengar itu bagi dirimu ada dan tiada? Jika sifat mendengar sungguh dikatakan tiada, siapa yang mengetahui ketiadaan tersebut?”
Buddha berkata kepada Arya Ananda: “Suara telah tiada, gema juga tiada, engkau bilang engkau tidak dapat mendengar, tetapi jika engkau benar-benar tidak dapat mendengar, sifat mendengar telah lenyap, sifat tahu dari mendengarmu ini sudah sejak awal tiada, sama halnya dengan kayu kering, kalau begitu saat suara genta berbunyi kedua kalinya, bagaimana engkau bisa tahu bahwa genta sedang berbunyi?”
Buddha yang terutama menjelaskan, suara ada kelahiran dan kepunahan (timbul dan lenyap), tetapi sifat mendengar tidak ada kelahiran dan kepunahan.
“Oleh karena itu, Ananda, suara di dalam pendengaran dengan sendirinya memiliki kelahiran dan kepunahan, bukanlah karena engkau mendengar suara lahir dan suara punah, sehingga membuat sifat mendengarmu menjadi ada atau menjadi tiada.”
Suara di dalam sifat mendengar ada kelahiran dan kematian, tetapi bukanlah sifat mendengarmu yang ada kelahiran dan kematian.
“Engkau masih berada dalam delusi, mengacaukan suara sebagai sifat mendengar, apa anehnya menjadi kebingungan, menganggap yang kekal sebagai yang terputus?”
Engkau masih berdelusi, mengira bahwa suara adalah sifat mendengarmu, salah! Ini adalah dua hal, yang satu adalah suara, yang satu adalah sifat mendengar, suara itu bisa ada bisa tidak ada, tetapi sifat mendengar itu selamanya terus ada.
Melalui ini Buddha menjelaskan Batin Sejati Terang nan Luhur adalah tidak ada kelahiran dan tidak ada kematian, sedangkan segala hal di luarnya mengalami kelahiran dan kematian.
Dharmaraja Lian Sheng lebih lanjut menjelaskan, kehidupan manusia bagaikan sandiwara, harta, rupa, nama, makanan, dan tidur semuanya adalah ilusi mimpi, orang yang dapat memahami sandiwara ini, dan mampu keluar darinya, maka tidak akan ada klesha. Hal terpenting dalam bhavana adalah mempertahankan Sifat Kebuddhaan murni Anda yang semula, yang lainnya semuanya boleh diabaikan, dan juga tidak ada yang diperoleh.
Usai Dharmadesana, Dharmaraja Lian Sheng dengan welas asih mengadhisthana umat yang hadir di lokasi maupun yang menonton siaran langsung di internet.
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia