12 Juli 2026 Liputan Upacara Homa Vasudhara Manohara di Rainbow Temple
Oleh: Lianhua Lihua (蓮花麗樺)
Pada 12 Juli 2026, Rainbow Temple di Seattle dengan tulus mengundang Dharmaraja Lian Sheng untuk memimpin Upacara Homa Vasudhara Manohara. Setelah homa manggala, Dharmaraja dengan tulus bernamaskara kepada Guru Silsilah dan Triratna Mandala, serta menyampaikan salam paling hangat dalam berbagai bahasa kepada umat di lokasi dan umat sedunia di internet.
"Makmur mendadak! Makmur mendadak! Makmur mendadak! Setelah berseru sekian kali, kali ini barulah benar." Dharmaraja Lian Sheng dengan humor menyatakan, Istadewata Vasudhara Manohara adalah dewa rezeki tertinggi yang berasal dari Sukhavatiloka, Beliau telah mengait seluruh pemandangan paling indah dan mestika dari Buddhaksetra di sepuluh penjuru ke Sukhavatiloka. Inilah sebabnya para Buddha di sepuluh penjuru bersama-sama memuji bahwa Sukhavatiloka melampaui berbagai surga, tanpa penderitaan sedikit pun, merupakan alam suci yang paling mudah dicapai dan paling luar biasa.
Dharmaraja mendeskripsikan secara detail lokasi geografis pada masa itu: dari Jalan Taichung melewati Bakso Daging Taichung, wisma guru hingga Jembatan Nanmen, di belakang kompi survei adalah Rumah Sakit Bodhi. Dharmaraja secara khusus menekankan, di antara 25 Bodhisatwa besar dalam Sutra Surangama, Bodhisatwa Mahastamaprapta adalah pembicara ke-24, yang menekankan pencapaian indra pendengaran dan metode pelafalan nama Buddha. Sutra ini bersama dengan Sutra Amitabha, Sutra Amitayus, Sutra Amitayur-dhyana, dan Risalah Kelahiran Kembali diklasifikasikan sebagai Dharmaratna tiada tara dari Aliran Tanah Suci, yang sangat penting bagi sadhaka untuk terlahir di Sukhavatiloka.
Dharmaraja juga secara terperinci melukiskan pemandangan indah nan agung dari Sukhavatiloka: tanah berlapis pasir emas, kolam teratai sapta ratna, air astaguna, serta istana emas yang menjulang ke awan. Di sana, semua makhluk hanya dengan mendengar alunan musik alam yang merdu, tubuh, ucapan, dan pikiran akan murni secara alami. Dharmaraja lebih lanjut menunjuk, kekayaan paling menakjubkan dari Sukhavatiloka sebenarnya adalah impian menjadi kenyataan, menginginkan apa pun akan segera muncul, sama sekali tidak ada kekurangan materi dan penyesalan, adalah bodoh jika tidak pergi ke Sukhavatiloka yang istimewa ini. Selain itu, Dharmaraja memuji Vasudhara Manohara yang tiada tara mulia dan luar biasa, serta mengungkapkan bahwa Beliau sendiri dalam proses homa melihat langsung kemunculan Dewi, wajah-Nya sangat cantik (So beautiful), membuat Beliau terus memuji-Nya.
Pratinjau Minggu Depan:
Homa Dharmapala Agung Mahabala Tiada Tara Dahsyatnya
Dharmaraja Lian Sheng mengumumkan bahwa pada hari Minggu, 19 Juli, pukul 3 sore, akan memimpin Upacara Homa Dharmapala agung Zhenfo Zong: Mahabala Vajra. Dharmaraja dengan humor membagikan sebuah kisah menarik yang berkaitan dengan pratima Mahabala Vajra di mandala ini: pratima ini awalnya ditempatkan oleh Acarya Lian Yin di samping toilet, Dharmaraja yang melihat hal itu menyatakan ingin mengundangnya kembali ke Arama Nanshan untuk dipuja, Acarya Lian Yin segera mengundangnya ke samping Dharmasana; sedangkan Acarya Chang Ren sepertinya mengetahuinya, dengan penuh perhatian membuat sebuah pratima Mahabala Vajra lain dengan ukuran yang sama untuk dikirim ke Arama Nanshan.
Dharmaraja Lian Sheng membabarkan, Mahabala Vajra memiliki kekuatan yang tiada tara (So powerful), tangan kanan-Nya membentuk mudra tarjani, tangan kiri di depan dada membentuk mudra krodha. Istadewata ini menggabungkan adhistana dari Buddha Amitabha, Bodhisatwa Ksitigarbha, Mahadewi Yaochi, Mahabaladuta, dan Padmakumara, Mantra Hati-Nya adalah “Om. Ma Ha Ba La Ya. Suo Ha.”, juga memiliki mantra penangkal hantu “Om. Ma Ha Ba La Ya. Hom Hom. Pei.”, merupakan Dharmapala yang sangat dahsyat di dalam Zhenfo Zong.
Seisi Rumah Penuh Dharmapala
Yesus Menjadi Satu-satunya Kerabat bagi Petugas Kebersihan dari Barat
Dharmaraja kemudian dengan kata-kata mutiara membagikan sebuah anekdot kehidupan di rumah. Suatu ketika mengundang dua orang petugas kebersihan berkewarganegaraan Meksiko ke rumah untuk bersih-bersih, begitu keduanya masuk ke pintu langsung tercengang oleh pratima dewata yang memenuhi rumah. Di tengah ruangan memuja Mahabala Vajra, di sekelilingnya terdapat Hevajra, Kalacakra Vajra, Yamantaka Vajra, Acalanatha, di luar pintu masih ada Jenderal Heng dan Ha, semuanya adalah krodhadewa dengan rupa yang garang, mereka langsung menyerukan bahwa ini adalah rumah paling unik yang pernah mereka bersihkan.
Sampai mereka melihat salah satu dari pratima Buddha tersebut, barulah mereka bernapas lega, buru-buru mengkonfirmasi kepada Acarya Lian Qi di samping: "Pratima yang satu ini sepertinya kami kenal?" Acarya menjawab: "Benar, itu adalah Yesus Kristus." Kedua petugas kebersihan tersebut baru merasa lega, buru-buru beranjali dan berdoa, merasa bersyukur di tengah rumah yang dipenuhi Dharmapala Timur yang garang, akhirnya mengenali seorang kerabat Barat.
Dharmaraja sambil tertawa mengatakan, penampilan Mahabala Vajra bagi orang Barat memang agak mengejutkan, namun anehnya, Lu Yin yang masih kecil setelah lahir bukan hanya tidak merasa takut sedikit pun, saat melihat Mahabala Vajra malah dengan senang hati mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, juga bisa beranjali dan menghormati, bahkan meniru proses abhiseka pratima, menunjukkan keluguan anak-anak dan jodoh Dharma yang sama sekali berbeda. Arus Dharma Upacara Mahabala Vajra minggu depan sangat kuat, Dharmaraja menyemangati khalayak untuk berpartisipasi dengan antusias.
◎ Anda Bertanya Saya Menjawab
Seorang siswa bertanya:
“Buddha Guru pernah dengan jelas menginstruksikan bahwa untuk berumur panjang mesti mengurangi keinginan dan merasa puas, perlu menekuni Sadhana Buddha Amitayus, melakukan Trimulapuja, melakukan perbuatan kebajikan besar untuk memperpanjang usia. Buddha Guru juga mengajarkan bahwa yang disebut satu perbuatan kebajikan besar membutuhkan tiga ribu pahala. Siswa yang bodoh memohon petunjuk Buddha Guru, apakah mempraktikkan tubuh murni, ucapan murni, pikiran murni sudah merupakan pahala agung dan perbuatan kebajikan besar yang tiada tara? Namun untuk mempertahankan tubuh, ucapan, dan pikiran murni terus-menerus tidaklah mudah? Membutuhkan waktu untuk dilatih.”
“Siswa yang bodoh memohon agar Buddha Guru mengajar, bagaimana para siswa bisa melakukan tiga ribu pahala kecil dalam waktu singkat untuk menyelesaikan satu pahala kebajikan besar? Untuk memperpanjang usia Buddha Guru, memohon Buddha menetap di dunia. Dengan demikian, pertama supaya Buddha Guru berumur panjang dan menetap di dunia, kedua setiap siswa juga meningkatkan tingkatannya sendiri. Ini benar-benar mendapatkan dua kebaikan sekaligus. Pencapaian duniawi dan lokuttara semuanya sempurna!!!”
Berdana Materi Mengulurkan Pertolongan
Berusaha Sebaik Mungkin Berbuat Kebajikan
Dharmaraja menunjuk, mampu memurnikan tubuh, ucapan, dan pikiran merupakan suatu perbuatan kebajikan besar, namun faktanya sangat sulit dilakukan. Mengambil contoh berbuat kebajikan, orang yang punya uang bisa melakukan dana harta, dan tidak boleh pelit. Dharmaraja secara khusus menyebutkan Sheng-Yen Lu Foundation yang dipimpin oleh putrinya Fo Qing, yang telah lama mendonasikan kepada International Community Health Services di Seattle dan tempat-tempat lainnya. Saat ini klinik tersebut memiliki tiga cabang, masing-masing di Bellevue, Ballard (dekat Kuil Sakya), dan Seattle. Klinik internasional tersebut mengenakan biaya yang lebih rendah dan menyediakan layanan bahasa Mandarin, umat Zhenfo Zong yang jatuh sakit juga sering membuat janji untuk berobat. Fo Qing mengungkapkan, yayasan tersebut sejauh ini telah menyumbangkan akumulasi 750 ribu dolar AS kepada klinik tersebut.
Dana karya amal yayasan tersebut utamanya berfokus untuk membantu imigran baru, menyediakan medis, membagikan beasiswa dan bantuan biaya sekolah serta pertolongan bencana, sebelumnya juga pernah membantu daerah bencana di Haiti, dan dikunjungi secara pribadi oleh Fo Qing bersama Andy ke Nepal untuk menginspeksi sekolah yang dibangun dari donasi. Dharmaraja mengungkapkan, yayasan tersebut saat ini di bawah yurisdiksi negara bagian Washington AS, termasuk yayasan publik, rencana ke depannya akan diubah menjadi yayasan pribadi, meskipun perlu membayar pajak (seperti Yayasan Bill Gates), namun cakupan koordinasi amalnya akan dapat diperluas ke seluruh dunia, menyebarkan kasih menjadi lebih luas.
Ilusi Enam Indra dan Nilai dari Jatuh Sakit
Dharmaraja mengutip Sutra Surangama menunjukkan, menjadi Buddha maupun tumimbal lahir semuanya dikarenakan oleh enam indra. Segala materi dan emosi (orang tua, suami istri, anak-anak, bahkan diri sendiri) yang kita lihat dengan mata, dengar dengan telinga, sentuh dengan tubuh, pada akhirnya akan lenyap satu demi satu, "Di dunia ini tidak ada satu pun benda yang nyata".
Dharmaraja membagikan pengalamannya sendiri pernah mengalami penderitaan sakit dioperasi sebanyak dua kali di Overlake Hospital, menyadari bahwa jatuh sakit mengandung pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Karena ujian menjadi tua, sakit, mati, dan penderitaan, bisa sepenuhnya melenyapkan hasrat manusia, membuat orang menyadari dengan jelas bahwa tubuh juga adalah sebuah ilusi, selanjutnya memahami Batin Sejati Terang nan Luhur yang disabdakan oleh Buddha Sakyamuni. Dunia di depan mata kita hanyalah bunga hampa dan awan mengambang yang dimunculkan oleh enam indra, namun manusia biasa selalu tertipu oleh dunia ilusi di depan mata, terus-menerus bertumimbal lahir di dalam enam indra.
Mengalami Sendiri Alam Binatang
Mewaspadai Enam Alam Tumimbal Lahir
Dharmaraja lebih lanjut mengungkapkan pengalaman mengejutkannya beberapa hari lalu di dalam samadhi, dikenakan kulit harimau oleh para Buddha Bodhisatwa untuk mengalami sendiri alam binatang. Para Buddha Bodhisatwa menggunakan kulit harimau untuk menutupi tubuh Beliau, Beliau pun menjelma menjadi harimau berada di dalam hutan. Dharmaraja tersadar, di dalam dunia binatang, ternyata semua hewan di dalamnya sebenarnya berisi manusia, satu sama lain bahkan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa semasa hidupnya (sebagai contoh dua ekor babi di dalam kandang menggunakan marga semasa hidupnya untuk berkomunikasi).
"Kamu berkedip dan terbangun, mungkin sudah berada di dalam kandang babi, demi bertahan hidup hanya bisa makan air sisa makanan. Jatuh ke alam binatang memang tak berdaya seperti ini. Inilah kenyataan dan kengerian dari enam alam tumimbal lahir, kita sama sekali tidak boleh jatuh ke dalam tiga alam penderitaan yaitu binatang, hantu kelaparan, dan neraka." Dharmaraja meminjam hal ini untuk memperingatkan khalayak, jangan sampai dengan mudah jatuh ke dalam tiga alam rendah.
Penuaan dan Sakit Anitya
Hanya Belas Kasih dan Ketulusan yang Bisa Melampauinya
Dharmaraja menunjuk, jika bisa mencapai tubuh, ucapan, dan pikiran murni, maka itu sudah merupakan tingkatan suciwan dari Arahat Agung. Namun, enam indra manusia biasa dipenuhi dengan pikiran khayal dan angan-angan. Semua orang mengejar makmur mendadak, atau mendambakan penampilan yang tampan dan cantik serta tubuh yang sehat, namun Dharmaraja mengingatkan, semua ini hanyalah ilusi singkat, "Tiba di masa tua, kamu akan tahu betapa menderitanya penderitaan usia tua."
Dharmaraja mengingat kembali masa lalu mendaki Gunung Rainbow bersama ibunya. Saat itu sang ibu di bawah pertengahan gunung tidak mampu berjalan maju, berkata kepada Dharmaraja: "Kelak kamu tua kamu akan paham." Saat orang menjadi tua, semuanya mulai melemah dari kaki, otot kaki mengendur maka akan sangat sulit melangkah, tidak mampu berlari.
Belakangan ini melihat ibunda Acarya Lian He yang berusia sembilan puluh lima tahun meninggal dunia karena stroke, Dharmaraja mengakui secara terus terang bahwa diri-Nya juga meneteskan air mata. Dharmaraja dengan emosional berkata:
"Di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa membuat saya meneteskan air mata, yang pertama adalah ibu saya, yang kedua adalah Mahadewi Yaochi. Melihat surat yang ditulis oleh Acarya Lian He, saya juga meneteskan air mata. Saya memikirkan ibunya pergi, ibu saya juga pergi, itu adalah satu-satunya kerabat saya, ia saat berusia tujuh puluh dua tahun juga pergi karena stroke. Semua orang akan pergi, di dunia ini tidak ada satu pun benda yang nyata. Melihat ibu orang lain pergi, saya sendiri juga akan meneteskan air mata. 'Berharap manusia berumur panjang, berbagi keindahan bulan walau terpisah ribuan mil', urusan di dunia ini, tidak ada satu pun yang mampu kamu genggam."
Menganggap Semua Makhluk Sebagai Kerabat
Mempraktikkan Welas Asih Kesatuan Tubuh
Dharmaraja dengan tulus dan mendalam membabarkan, justru karena segala yang ada di dunia manusia pada akhirnya akan lenyap, tak satu pun yang nyata, kita lebih harus menyadari ketidakkekalan, di dalam waktu yang terbatas bertekun dalam bhavana, dan dengan belas kasih serta hati yang setara memperlakukan setiap orang di sisi kita. Dan di Sahaloka, rahasia membina belas kasih terletak pada mengamati semuanya sebagai satu kesatuan, setara tanpa perbedaan:
Memandang para lansia sebagai orang tua sendiri
Memandang yang seumuran sebagai saudara saudari
Memandang yang masih muda sebagai anak sendiri
Dharmaraja menekankan, hati damai barulah dunia bisa damai. Di dunia tidak ada pemisahan orang atas, orang menengah, atau orang bawah, semuanya adalah setara. Saat memahami hati, Buddha, semua makhluk, ketiganya tiada perbedaan, di antara sesama manusia maka tidak akan ada lagi pertikaian, ini juga merupakan akar dari welas asih kesatuan tubuh Tantra yang tidak hanya menyeberangkan umat manusia, bahkan alam binatang, alam hantu kelaparan, dan alam neraka juga diseberangkan secara setara bersama-sama.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Segera setelahnya, Dharmaraja mengulas bab ke-5 Sutra Surangama:
“Pada saat itu Begawan berwelas asih kepada Ananda, dan semua orang masih belajar yang ada dalam persamuhan. Juga demi semua makhluk di masa depan, demi sebab pencerahan lokuttara, Beliau menjadi mata di masa depan. Beliau menggunakan tangan cahaya emas keunguan Jambunada, mengusap puncak kepala Ananda. Pada saat itu juga Buddhaloka di sepuluh penjuru, mengalami enam macam guncangan. Para Tathagata sebanyak butiran debu, yang mendiami dunia tersebut, dari usnisa masing-masing memancarkan cahaya mestika. Cahayanya bersamaan dari dunia mereka, datang ke Hutan Jeta, memberikan abhiseka pada puncak kepala Tathagata. Khalayak dalam persamuhan ini, merasakan apa yang belum pernah mereka alami.”
Abhiseka Cahaya Buddha Sepuluh Penjuru
Menunjukkan Keagungan Persamuan Agung yang Tiada Tara
Dharmaraja Lian Sheng kemudian mengutip perbendaharaan Sutra, melukiskan Buddha Sakyamuni karena berbelas kasih kepada Yang Mulia Ananda dan para Sravaka di dalam persamuhan, supaya semua makhluk menjadi mata di masa depan demi sebab pencerahan lokuttara (merujuk pada pembukaan mata Dharma dan mata kebijaksanaan untuk menembus kepalsuan enam indra), maka dari itu Beliau mengulurkan tangan cahaya emas keunguan Jambunada untuk mengusap puncak kepala Ananda.
Pada saat ini, Buddhaloka di sepuluh penjuru mengalami enam macam guncangan, Tathagata yang tak terhitung jumlahnya dari usnisa memancarkan cahaya pusaka, berkumpul di Hutan Jeta tempat Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma, bersama-sama menuju ke puncak Tathagata untuk memberikan abhiseka. Seketika cahaya dengan cahaya saling menerangi, saling berpadu dan bersinar gemilang, khalayak dalam persamuan menghela napas atas hal yang belum pernah terjadi ini, adegannya sangat mengejutkan.
Kunci pencerahan dari Aliran Zen dan Tantra
Dharmaraja menunjukkan, di balik adhistana cahaya Buddha ini, justru mengandung kunci pencerahan:
Apa yang dimaksud dengan kesalahan? Menganggap tingkatan ilusi enam indra sebagai nyata, itu adalah kesalahan.
Apa yang dimaksud dengan pencerahan? Menyadari dengan jelas Batin Sejati Terang nan Luhur yang telah dimiliki dengan sendirinya, barulah pencerahan. Perkataan dalam Aliran Zen "Pada mulanya tak ada satu barang pun", yaitu menembus kepalsuan enam alam, yang tersisa hanyalah alam Buddhaloka yang nyata.
Dharmaraja menekankan, justru karena dunia ini adalah ilusi, sadhaka lebih harus berbelas kasih memperlakukan semua makhluk enam alam. Dalam Tantra, dalam makan dan minum sehari-hari memiliki pujana makanan dan penyeberangan, bahkan saat makan ikan, juga harus memendam belas kasih dalam hati, membentuk mudra, meniup, dan merapal Dharani Sukhavativyuha untuk menyeberangkannya, inilah praktik nyata Tantra dalam mengintegrasikan welas asih ke dalam kehidupan.
Disiplin Menjaga Lima Sila
Jangan Karena Keserakahan Jatuh ke Tiga Alam Rendah
Menanggapi kekacauan merajalelanya penipuan dalam masyarakat saat ini, Dharmaraja dengan sedih menunjuk, kelompok penipu mabuk akan harta, sepenuhnya melanggar prinsip dasar kemanusiaan "apa yang tidak kamu inginkan, jangan berikan kepada orang lain".
"Dunia ini adalah sebuah dunia penipuan dan pembunuhan." Dharmaraja memperingatkan, lima sila Buddhis (pantang membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong, meminum alkohol) adalah akar kemanusiaan. Entah itu memicu peperangan pembunuhan terbesar, ataupun penipuan yang menipu harta benda orang lain, semuanya membuat manusia kehilangan kualifikasi sebagai manusia, pada akhirnya akan jatuh ke tiga alam rendah, yaitu binatang, hantu kelaparan, dan neraka.
Mengalami Penderitaan Sakit
Menjadi Ikrar Maha Karuna Kesatuan Tubuh
Dharmaraja secara emosional membagikan, di kehidupan-Nya kali ini di Sahaloka sama-sama mengalami sakit, tua dan segala jenis kesakitan. Para Buddha Bodhisatwa membuat-Nya sangat merasakan secara mendalam rasa dari sangat sulit melangkah, tujuannya adalah untuk membuat Beliau mampu merasakan hal yang sama terhadap penderitaan semua makhluk.
"Karena saya sendiri pernah sakit, pernah merasa kesakitan, jadi ketika saya memberikan adhistana untuk siswa yang menderita karena jatuh sakit, saya mampu merasakan hal yang sama, memunculkan simpati dan hati yang berbelas kasih paling mendalam."
Dharmaraja lebih lanjut mengungkapkan, Beliau pernah memasuki alam binatang untuk peduli kepada seorang siswa Zhenfo Zong yang kurang beruntung jatuh ke dunia binatang. Pada saat itu Dharmaraja tidak secara paksa mengupas cangkang luarnya, melainkan dengan lembut menghibur dengan belas kasih, memintanya untuk bersabar, dan berjanji akan membimbingnya terlahir kembali ke Sukhavatiloka.
Dharmaraja menyemangati semua, hanya dengan tekun berbhavana metode ajaran empat alam kesucian, dengan belas kasih, hati yang setara memperlakukan semua makhluk, barulah mampu secara tuntas memutuskan delusi, lepas dari belenggu enam alam tumimbal lahir. Setelah menyelesaikan Dharmadesana yang luar biasa, memberikan Abhiseka Sadhana Vasudhara Manohara kepada segenap hadirin, upacara berakhir dengan manggala.
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia
#ManoharaVasudhara
Istadewata Homa minggu depan #VajraMahabala