18 Juli 2026 Liputan Pujabakti Sadhana Istadewata Padmakumara di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Oleh Biksuni Lian Qiao (蓮僑法師)
Sabtu malam tanggal 18 Juli 2026 pukul delapan, di baktisala Seattle Ling Shen Ching Tze Temple Amerika Serikat, Dharmaraja Lian Sheng memimpin pujabakti Sadhana Istadewata Padmakumara, serta melanjutkan pengulasan Sutra Surangama.
Dharmaraja Lian Sheng terlebih dahulu memberitahukan bahwa Upacara Agung Musim Gugur pada tanggal 5 September akan menjadikan Bodhisatwa Mahastamaprapta sebagai Istadewata Utama. Bodhisatwa Mahastamaprapta bersama dengan Buddha Amitabha dan Bodhisatwa Avalokitesvara disebut sebagai Trini Arya Sukhavati. Umumnya semua orang melafalkan “Namo Amituofo” dan “Namo Guanshiyin Pusa”, sangat jarang orang yang melafalkan “Namo Dashizhi Pusa” (Bodhisatwa Mahastamaprapta). Justru karena jarang ada yang melafalkan, maka saat Anda secara tiba-tiba melafalkan nama agung-Nya, Dia akan terbangun.
Dharmaraja Lian Sheng menyampaikan bahwa Mahastama mewakili daya dan kekuatan yang sangat luas, sedangkan Prapta berarti kekuatan yang sangat besar yang dapat dilimpahkan kepada Anda. Melakukan sadhana Istadewata ini memiliki keistimewaan tersendiri dan akan mendatangkan banyak keajaiban. Dharmaraja Lian Sheng mengenang saat muda pertama kali mendengarkan pembabaran Sutra, yaitu di Gedung Peringatan Taixu Taiwan mendengarkan Guru Li Bingnan membabarkan Bab Penembusan Sempurna Pelafalan Nama Buddha oleh Bodhisatwa Mahastamaprapta, sampai sekarang sudah hampir 60 tahun. Oleh karena itu, pada tanggal 5 September secara khusus akan membabarkan tentang Bodhisatwa Mahastamaprapta, berharap para siswa menghargai jodoh Dharma nan luhur ini, menghadiri upacara dan mendengarkan Dharmadesana.
Membahas tentang pemilihan ulang kepala departemen dan anggota komite True Buddha Foundation pada tanggal 7 September, Dharmaraja Lian Sheng memuji bahwa kepala departemen dan aggota komite yang lama telah bekerja dengan sangat baik. Kepala departemen yang terpilih kelak akan memiliki tanggung jawab baru, dan dalam menghadapi pergantian pengurus baru dan lama, harus diselaraskan dengan baik. Dharmaraja Lian Sheng mengumpamakan bagaikan kuda tua membimbing kuda muda, berpendapat bahwa kepala departemen yang baru tetap membutuhkan bimbingan dari senior yang berpengalaman. Jika dapat mempertahankan satu atau dua kepala departemen senior untuk membantu meneruskan pengalaman, sehingga pengurus baru dan lama saling bekerja sama dan melakukan serah terima dengan lancar, hal ini akan membantu perkembangan urusan True Buddha Foundation berjalan maju secara stabil.
◎ Anda Bertanya Saya Menjawab
Siswa bertanya: Buku Karya Tulis ke-140 “Shenmi De Huanxiang” (神秘的幻像) bab ke-18 “Kisah Aneh di Konser Musik” menyebutkan bahwa Monyet Suci Thailand bersarana kepada Dharmaraja Lian Sheng menjadi Dharmapala, serta mempersembahkan Mantra Hati. Mohon bertanya apakah itu adalah Hanuman dari agama Hindu? Apakah di masa mendatang ada kesempatan untuk mentransmisikan Sadhana Monyet Suci?
Dharmaraja Lian Sheng menjawab: Monyet Suci yang disebutkan dalam tulisan tersebut adalah Hanuman, Dia memiliki Mantra Hati tersendiri. Tiga Dewa Utama agama Hindu adalah Wisnu, Dewa Maha Brahma, dan Syiwa, selain itu ada Kali, Laksmi, Saraswati, Ganesha, Hanuman, dan lain-lain. Jika ingin memahami sejarah Hanuman, dalam agama Hindu terdapat penjelasan yang lengkap.
Dharmaraja Lian Sheng menyampaikan bahwa asal-usul orang Tibet juga berasal dari Monyet Suci. Menurut sejarah Tibet yang ditulis oleh Songtsen Gampo, Bodhisatwa Avalokitesvara pernah mengutus seekor Monyet Suci ke Wilayah Salju untuk melakukan bhavana. Setelah Monyet Suci tiba di Tibet, ia menikah dengan seorang Raksasi dan melahirkan orang Tibet pertama. Oleh karena itu, leluhur orang Tibet dikisahkan sebagai keturunan dari Monyet Suci dan Raksasi. Songtsen Gampo sendiri dianggap sebagai emanasi Bodhisatwa Avalokitesvara, yang menikahi Putri Wencheng dari Dinasti Tang (titisan Syama Tara) dan Putri Bhrikuti dari Nepal (titisan Sita Tara). Di Tiongkok juga terdapat Monyet Suci Sun Wukong, dan Dharmaraja Lian Sheng dulu pernah memuja Sun Wukong.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Dharmaraja Lian Sheng melanjutkan Dharmadesana Sutra Surangama Bab ke-5.
“Maka Ananda dan segenap hadirin, mendengar para Tathagata sebanyak debu di sepuluh penjuru dengan serentak bersabda kepada Ananda: ‘Sadhu, Ananda, jika engkau ingin mengetahui ketidaktahuan bawaan yang membuatmu berputar dalam simpul kelahiran dan kematian, itu hanya disebabkan oleh enam indramu, tidak ada hal lain. Jika engkau ingin mengetahui Anuttara Bodhi yang membuatmu dengan cepat membuktikan kebahagiaan, pembebasan, ketenangan, dan keabadian nan luhur, itu juga disebabkan oleh enam indramu, tidak ada hal lain.’”
Arya Ananda bersama segenap hadirin dalam persamuhan, semuanya mendengar para Tathagata sebanyak jumlah debu di sepuluh penjuru secara serentak memberitahu Ananda: “Sangat baik, Arya Ananda.”
Sepuluh penjuru yaitu timur, selatan, barat, utara, atas, bawah, serta empat penjuru sudut. Jumlah debu berarti sangat banyak. Tathagata adalah Buddha yang telah mencapai keberhasilan.
Semua makhluk memiliki pikiran keliru dari ketidaktahuan serta berputar dalam kelahiran dan kematian, akar kemelutnya terletak pada enam indra, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, tidak ada hal lainnya lagi.
Enam indra para makhluk terperdaya oleh fenomena luar di dunia Saha sehingga berbuat karma, pikiran keliru dari ketidaktahuan menyebabkan semua makhluk terus-menerus bertumimbal lahir di enam alam kehidupan.
Engkau, Arya Ananda, sekarang ingin merealisasikan Anuttara Bodhi, ingin menjadi Buddha dan Bodhisatwa, atau setidaknya menjadi Arahat, mampu membuktikan Batin Sejati Terang nan Luhur, tidak lagi bertumimbal lahir, serta dapat mencapai alam suci, itu juga mengandalkan enam indra yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, tidak ada hal lainnya lagi.
Dharmaraja Lian Sheng memberitahu semua: Enam indra tidak hanya membuat orang bertumimbal lahir, tetapi juga membuat orang merealisasikan Batin Sejati Terang nan Luhur. Bhavana tidak dapat digantikan oleh orang lain, harus mengandalkan diri sendiri, sama seperti makan, masing-masing orang makan masing-masing yang kenyang, tidak ada orang yang dapat menggantikan Anda berbhavana. Bhavana hanyalah kemudahan dan metode yang diberikan kepada Anda, apakah Anda berbhavana atau tidak, apakah mencapai keberhasilan atau tidak, semuanya bergantung pada diri sendiri.
Di dunia ini ada suatu hitungan takdir, perjumpaan antar manusia bukanlah suatu kebetulan, orang tua, saudara-saudari, suami istri, anak-anak, semuanya memiliki jalinan takdir serta nasib dan peruntungan masing-masing, bahkan anak kembar pun nasib dan peruntungannya tidak sepenuhnya sama.
Orang zaman dahulu seperti Shao Kangjie telah sejak lama mempelajari hitungan takdir, Tie Ban Shen Shu memperhitungkan nasib dan peruntungan seumur hidup seseorang berdasarkan tahun, bulan, hari, jam, dan menit kelahiran. Namun, hitungan takdir bukanlah sama sekali tidak dapat diubah, kebajikan besar dan kejahatan besar dapat mengubahnya, mencapai keberhasilan dalam bhavana Buddhadharma juga dapat mengubahnya.
Prinsip bahwa enam indra menyebabkan samsara atau keberhasilan, hanya dapat dipahami oleh orang yang benar-benar telah sadar. Semua makhluk bagaikan berada di dalam mimpi, tidak menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi, menganggap alam mimpi sebagai kenyataan, sampai setelah terbangun barulah mengetahui bahwa ternyata semuanya hanyalah mimpi.
Orang yang telah sadar adalah Arya, orang yang belum sadar masih berada di dalam samsara enam alam kehidupan. Buddha Shakyamuni, Yesus, serta Laozi dari Tiongkok, semuanya adalah orang yang telah sadar. Para Arya membabarkan Dharma dengan harapan dapat membangkitkan kesadaran semua makhluk.
Mengenali kebenaran sejati sangatlah penting, Sutra Surangama bertujuan untuk mengajarkan kepada semua makhluk mengenali kebenaran sejati. Semua makhluk bertumimbal lahir di enam alam kehidupan adalah karena mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, sedangkan mencapai keberhasilan menjadi Buddha dan Bodhisatwa juga mengandalkan enam indra, perbedaannya terletak pada bagaimana mengubah enam indra duniawi menjadi enam indra yang suci.
Dharma dari Buddha Shakyamuni mengajarkan semua makhluk berbhavana untuk mengubah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran menjadi suci. Karena pada dasarnya memang suci, pada dasarnya adalah Batin Sejati Terang nan Luhur, sedangkan mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran hanyalah hal-hal yang mengapung di atasnya saja, Sutra Surangama selanjutnya akan menjelaskan secara lebih mendalam tentang bagaimana mengubah enam indra duniawi menjadi enam indra yang suci.
Setelah Dharmadesana yang sangat tajam dan berharga, Dharmaraja Lian Sheng dengan penuh welas asih mengadhisthana air Mantra Maha Karuna, mengabhiseka pratima Buddha, dan akhirnya mengadhisthana para siswa dengan kibasan vyajanacamara silsilah.
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia