1 Agustus 2026 Liputan Pujabakti Istadewata Buddha Amitabha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Oleh Lianhua Shuguan (蓮花淑觀)
Pada malam hari tanggal 1 Agustus 2026, Seattle Ling Shen Ching Tze Temple di Amerika Serikat terang benderang dan dipenuhi sukacita Dharma. Mulacarya Silsilah Dharmaraja Lian Sheng hadir secara langsung memimpin pujabakti Istadewata Tathagata Amitabha, dan melanjutkan pengulasan Sutra Surangama. Empat kelompok siswa berkumpul bersama, umat se-Dharma baik daring maupun luring dengan tulus bersama-sama melakukan pujabakti, bersama-sama menerima manfaat Dharma.
Setelah pujabakti selesai, Mahaguru Lu dengan welas asih memberikan Dharmadesana, membimbing semua supaya sadar dari kebingungan duniawi tentang kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, lalu lebih lanjut menyadari ketidaklahiran dan ketidakmusnahan Batin Sejati Terang nan Luhur di dalam Sutra Surangama.
◎ Anda Bertanya Saya Menjawab
Ketetapan Nasib dan Peruntungan serta Keistimewaan Sutra Raja Agung.
Siswa bertanya: Dharmaraja Lian Sheng sering memberikan Dharmadesana bahwa penderitaan penyakit dan penderitaan usia tua semuanya adalah takdir, tetapi Sutra Raja Agung menyebutkan dapat memusnahkan penderitaan hidup dan mati, melenyapkan segala racun dan marabahaya, mengapa meskipun telah melafalkannya ribuan hingga puluhan ribu kali, masih sulit menghindari penderitaan usia tua, penyakit, dan kematian?
Dharmaraja Lian Sheng menjawab: Kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian dalam kehidupan manusia memang ada ketetapannya. Shaozi Yishu dari Shao Kangjie pada dinasti Song (kemudian disebut Tieban Shenshu), dapat secara akurat menghitung naskah kehidupan seseorang sepanjang hidupnya melalui tahun, bulan, hari, jam, dan menit kelahiran, termasuk bertemu siapa, berapa gajinya, hingga berapa usianya. Semua orang di dunia bertindak dalam naskah yang telah ditetapkan, hanya kebaikan besar dan kejahatan besar yang dapat mengubah nasib dan peruntungan.
Namun, membaca Sutra Raja Agung sama sekali bukan hal yang sia-sia. Mahaguru Lu mengambil pengalaman sendiri sebagai contoh, sebelumnya mengalami sakit parah, melewati dua operasi, prosesnya sangat menyakitkan, jika bukan karena membaca Sutra Raja Agung untuk mendapatkan adhistana terang dari para Buddha Bodhisatwa, yang meringankan penderitaan penyakit, dikhawatirkan akan sulit untuk cepat pulih dan kembali naik ke Dharmasana untuk membabarkan Dharma.
Mahaguru Lu menekankan, Sutra Raja Agung mengandung banyak nama agung para Buddha Bodhisatwa, merupakan bahtera welas asih untuk menyeberangi lautan penderitaan hidup dan mati, membaca sutra dapat meringankan penderitaan kelahiran, penderitaan penyakit, dan penderitaan kematian, membuat karma berat diterima menjadi ringan, mengubah bahaya menjadi keselamatan.
Berbicara tentang pemulihan setelah sakit, Mahaguru Lu mengungkapkan, saat baru sembuh dari sakit parah, batin sangat depresi, saat itu Mahadewi Yaochi dengan welas asih menampakkan diri dan mengajarkan: “Di mana ada kebahagiaan, pergilah ke sana.”
Mahaguru Lu menggunakan kesempatan ini untuk menyemangati para siswa, kehidupan ini seperti mimpi, karena sudah berada di dalam mimpi, buatlah mimpi yang indah, tidak perlu menyiksa diri sendiri.
Mahaguru Lu memberikan Dharmadesana, situasi kehidupan tidak lain adalah pertemuan dan perpisahan, dalam segala hal janganlah melekat. Jika di dalam nasib sudah seharusnya ada, akhirnya pasti akan ada, jika di dalam nasib tidak ada, janganlah memaksakan, terhadap untung rugi duniawi, harus memegang apa yang dikatakan dalam Sutra Hati yaitu karena tiada yang diperoleh, Bodhisatwa, melepaskan kemelekatan pada aku, mengikuti nidana, hati secara alami akan menjadi terbuka. Selagi tubuh dan batin masih bisa mengambil keputusan, jalanilah hari-hari dengan bahagia, menghadapi segalanya dengan tenang, barulah merupakan pilihan orang bijaksana.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
Dharmaraja Lian Sheng melanjutkan Dharmadesana Sutra Surangama Bab ke-5.
Buddha Sakyamuni menggunakan saputangan berhias dibuat simpul sebagai perumpamaan, secara langsung menunjuk pada inti masalah semua makhluk yang kehilangan sifat aslinya.
“Seketika, Tathagata di atas singgasana, merapikan nivasana, merapatkan samghati, menarik meja kecil tujuh mustika, mengulurkan tangan ke meja kecil, mengambil saputangan berhias yang dipersembahkan oleh Dewa Kapila, di depan khalayak membuat sebuah simpul.”
Pada saat ini, Buddha di atas Dharmasana, merapikan nivasana (rok lama) dan samghati (jubah sila), menarik meja kecil bertatahkan tujuh mustika, mengulurkan tangan ke atas meja kecil ini, mengambil saputangan berhias (khata) yang dipersembahkan oleh Dewa Kapila (Dewa Waktu), di depan khalayak membuat sebuah simpul.
“Menunjukkannya kepada Ananda dan berkata, Ini disebut apa?”
Buddha Sakyamuni memperlihatkan khata yang telah dibuat sebuah simpul ini kepada Ananda, dan bertanya: “Apakah ini?”
“Ananda dan khalayak bersama-sama berkata kepada Buddha, Ini disebut simpul.”
Ananda dan khalayak semuanya berkata kepada Buddha Sakyamuni: “Ini disebut simpul.”
“Kemudian Tathagata melipat saputangan berhias tersebut, membuat simpul lagi, dan bertanya lagi kepada Ananda, Ini disebut apa?”
Buddha Sakyamuni membuat sebuah simpul lagi pada khata tersebut, dan bertanya lagi kepada Ananda: “Ini disebut apa?”
“Ananda dan khalayak berkata lagi kepada Buddha, Ini juga disebut simpul.”
Ananda dan khalayak juga berkata kepada Buddha Sakyamuni: “Ini juga disebut simpul.”
“Demikianlah secara berurutan melipat saputangan berhias, total menjadi enam simpul. Setiap kali sebuah simpul terbentuk, selalu mengambil simpul yang terbentuk di tangannya, memegangnya dan bertanya kepada Ananda, Ini disebut apa?”
Buddha secara berurutan membuat enam simpul pada khata tersebut, setiap membuat satu simpul lalu bertanya kepada Ananda: “Ini disebut apa?”
“Ananda dan khalayak juga demikian, secara berurutan menjawab Buddha, Ini disebut simpul.”
Ananda dan khalayak setiap kali selalu menjawab: “Ini adalah simpul.”
“Buddha memberitahu Ananda, Saat aku pertama membuat simpul pada saputangan, kalian menyebutnya simpul, lipatan saputangan berhias ini, pada awalnya sungguh adalah satu helai, yang kedua, yang ketiga, mengapa kalian juga menyebutnya sebagai simpul?”
Buddha Sakyamuni memberitahu Ananda: Sehelai khata ini pertama kali dibuat simpul, kalian semua menyebutnya sebagai simpul. Kemudian dibuat lagi menjadi simpul kedua, simpul ketiga, mengapa di atas khata ini dibuat enam simpul, kalian semuanya menyebutnya sebagai simpul?
“Ananda berkata kepada Buddha, Bhagawan, saputangan berhias mustika yang dilipat ini ditenun menjadi saputangan, walaupun aslinya adalah satu kesatuan, seperti yang aku pikirkan, Tathagata membuat satu simpul, mendapatkan satu nama simpul, jika dibuat seratus simpul, akhirnya disebut seratus simpul, apalagi saputangan ini hanya ada enam simpul, tidak sampai tujuh, juga tidak berhenti di lima, mengapa Tathagata hanya mengizinkan saat pertama, yang kedua, yang ketiga tidak disebut sebagai simpul?”
Ananda berkata kepada Buddha Sakyamuni: Benda ini ditenun dari kain rami menjadi khata, walaupun merupakan satu kesatuan, namun aku berpikir begini, Tathagata membuat satu simpul, maka mendapatkan satu nama simpul, jika dibuat menjadi seratus simpul, maka menjadi seratus nama simpul, apalagi saputangan ini hanya ada enam simpul, juga tidak dibuat tujuh simpul, juga tidak berhenti pada simpul kelima, mengapa Buddha Sakyamuni hanya menganggap simpul pertama saat itu disebut sebagai simpul, lalu yang kedua, yang ketiga tidak disebut sebagai simpul?
“Buddha memberitahu Ananda, saputangan berhias mustika ini, engkau tahu saputangan ini asalnya hanya satu helai. Saat Aku membuat enam simpul, namanya ada enam simpul. Engkau amati dengan saksama, wujud saputangan adalah sama, karena simpul menjadi ada perbedaan.”
Buddha Sakyamuni memberitahu Yang Mulia Ananda: Engkau juga tahu khata ini hanya ada satu helai, Aku membuat enam simpul, namanya walaupun ada enam simpul, tetapi engkau lihat dengan saksama, khata tetaplah khata, saputangan ini asalnya hanya satu helai, hanya karena sehelai khata dibuat enam simpul, engkau menyebutnya sebagai simpul, bukankah engkau ini menjadi kacau?
Dharmaraja Lian Sheng menyingkirkan awan untuk menyingkapkan mentari, menunjukkan makna dari tuturan Buddha: Asalnya sehelai khata, mengapa engkau tidak membicarakannya, malah membicarakannya menjadi simpul? Buddha Sakyamuni membicarakan tubuh manusia kita hanya ada satu Batin Sejati Terang nan Luhur, hanya saja di atasnya ditambahkan mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, tetapi Batin Sejati Terang nan Luhur sama sekali tidak engkau bicarakan, engkau hanya mengetahui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran.
Semua makhluk sepenuhnya memiliki Batin Sejati Terang nan Luhur (Buddhata) yang tunggal dan murni, namun makhluk awam malah dibutakan oleh enam simpul yang dibentuk oleh enam indra yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, hanya melekat pada wujud perasaan dan pikiran delusi dari enam indra, dan sepenuhnya mengabaikan Buddhata abadi di dalam.
Untuk terbebas dari klesa, maka harus belajar bagaimana melepaskan keenam simpul ini. Tidak melekat pada wujud palsu kemunculan dan kelenyapan enam indra, kembali pada esensi tathata yang pada asalnya murni, barulah dapat benar-benar merasakan keleluasaan dari ketiadaan perolehan dan kehilangan.
Dharmadesana Mahaguru Lu berakhir dalam lelucon yang humoris namun mengandung makna mendalam. Kemudian, diiringi suara lantunan yang agung dan murni, Mahaguru Lu mengadhistana Air Maha Karuna Dharani dan mengabhiseka pratima Buddha, lalu memegang vyajana-camara secara berurutan mengadhistana semua siswa yang hadir di lokasi.
Sampai di sini, seluruh pujabakti berakhir dengan sempurna dalam sukacita Dharma dan nutrisi Dharma yang tak terhingga. Semua merasa enggan berpisah, dengan hormat mengantar kepergian Mahaguru Lu, hati penuh dengan manfaat Dharma yang tiada tara. Beranjali dan bersembah puja, berterima kasih atas adhistana dan perlindungan Mahaguru Lu yang welas asih dan tidak akan meninggalkan semua makhluk!
------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia