
【Catatan Dharmaraja】
📕 Dharmaraja Lian Sheng pernah mengatakan bahwa Sadhana Bodhisatwa Vajracitta adalah Mahasadhana yang paling utama. Artikel ini akan mengajak Anda untuk memahami pahala dari Sadhana Bodhisatwa Vajracitta beserta asal-usul berbagai sadhana pertobatan (Ksamayati).
Kontak Yoga Agung dari Pertobatan (I)
Kumpulan Dharmadesana Dharmaraja Lian Sheng Lu Sheng-Yen ke-103 【Mi Jiao Da Xiang Ying】
"Pertobatan" (Ksamayati) di dalam Buddhadharma adalah bagian yang sangat penting.
Dalam Buddhadharma terdapat ritus pertobatan, inilah yang disebut "Sadhana Pertobatan". Sepengetahuan saya, sadhana pertobatan dalam Buddhadharma antara lain:
1. Ratna Ksamayati Kaisar Liang (梁皇寶懺) ── Kaisar Wu dari Dinasti Liang membaca Tripitaka demi Selir Xi, lalu menyusun Sadhana Pertobatan Bodhimanda Maitri Karuna.
2. Sadhana Pertobatan Air (水懺法) ── Biksu Wuda, berdasarkan bimbingan biksu suci dalam mempraktikkan pertobatan, menyusun Sadhana Pertobatan Air Maitri Karuna.
3. Sadhana Pertobatan Cahaya Mulia (金光明懺法) ── Mahabiksu Tiantai menyusun sadhana pertobatan ini berdasarkan Suvarnaprabhasottama Sutra (Sutra Cahaya Emas).
4. Sadhana Pertobatan Avalokitesvara (觀音懺法) ── Sadhana pertobatan yang berlandas pada Sutra Avalokitesvara untuk menaklukkan dan melenyapkan racun berbahaya.
5. Sadhana Pertobatan Amitabha (阿彌陀懺法) ── Sadhana pertobatan yang bersandar pada Buddha Amitabha untuk melampaui alam menuju Tanah Suci yang tiada tara.
6. Sadhana Pertobatan Saddharmapundarika (法華懺法) ── Disusun oleh Mahabiksu Tiantai berdasarkan Saddharmapundarika Sutra (Sutra Teratai/Fa Hua Jing), disebut juga Pertobatan Enam Indra dan Samadhi Saddharmapundarika.
7. Sadhana Pertobatan Bhaisajyaguru (藥師懺法) ── Kitab pertobatan yang disusun berdasarkan Bhaisajyaguru Vaiduryaprabha Tathagata Purvapranidhana Sutra (Sutra Ikrar Pahala Buddha Bhaisajyaguru).
8. Sadhana Pertobatan Vaipulya (方等懺法) ── Kitab pertobatan yang disusun oleh Mahabiksu Tiantai berdasarkan Mahavaipulya Dharani Sutra.
Mengapa harus bertobat?
Cittabhumi Pariksa Sutra (心地觀經) menyatakan:
Barang siapa yang menyembunyikan dosanya.
Dosanya akan bertambah.
Mengungkapkannya dan bertobat.
Dosanya akan dikikiskan.
Gatha pertobatan yang paling sering kita lafalkan adalah:
"Segala karma buruk yang telah kuperbuat sejak dahulu. Semuanya bermula dari keserakahan, kemarahan, dan kebodohan batin (lobha, dosa, moha) yang tiada awal. Terlahir dari tubuh, ucapan, dan pikiran. Kini aku sesali dan bertobat atas segalanya."
Saya paling menyukai satu kalimat di dalam Mahasamnipata Sutra (大集經):
"Ibarat pakaian yang kotor selama seratus tahun, dicuci dalam satu hari, dapat menjadi bersih. Demikian pula segala karma buruk yang terkumpul selama ratusan ribu kalpa, berkat kekuatan Buddhadharma dan perenungan yang bajik, dalam satu hari dan satu waktu, semuanya dapat dilenyapkan seutuhnya."
Gatha Pertobatan Tantrayana:
Di hadapan Mulacarya perwujudan Triratna, aku merenung. Aku bersujud di hadapan Mulacarya Padmaprabha.
Terhadap ajaran Guru, Sutra, dan Sastra para Tathagata. Bertindak tidak sesuai prinsip dan memfitnah Acarya.
Di hadapan saudara-saudari sedharma (Vajra) yang sama-sama menerima abhiseka. Memunculkan pandangan sesat dan batin penuh kemarahan serta mengucapkan kata-kata jahat.
Mandala Yidam belum divisualisasikan dengan jelas di dalam pikiran. Pelafalan mantra tidak jelas dan pengucapannya keliru.
Membocorkan rahasia yang diamanatkan untuk dijaga. Mengungkapkan Sepuluh Rahasia Utama untuk menipu Mulacarya.
Atas pelanggaran Sila Dasar (Mulasamaya), aku mengungkapkannya dan bertobat. Selanjutnya dalam mempraktikkan Lima Sila Karma.
Atas pelanggaran sila cabang, aku mengungkapkannya dan bertobat. Tidak tekun melatih kekuatan samadhi dalam sadhana dan menjaga sila.
Tidak memberikan persembahan pada siang, malam, hari bulan purnama, dan enam waktu. Karena kemalasan, kelengahan, keserakahan, kekikiran, menimbun harta, dan enggan berdana.
Atas kelalaian tiga karma (tubuh, ucapan, pikiran) yang melanggar sila, aku bertobat. Segala noda kesalahan dari pelanggaran sila.
Dengan tulus hati aku mengungkapkannya dan bertobat, memohon agar dapat kembali suci.
●
Sadhana Pertobatan sebenarnya terbagi menjadi tiga jenis:
1. Zuofa Chan (Pertobatan melalui ritual) ── Mengungkapkan segala dosa dan kesalahan di hadapan Buddha, segala pelanggaran sila dari tubuh, ucapan, dan pikiran, bertobat sesuai dengan ritus sadhana, ini adalah metode sila untuk melenyapkan dosa pelanggaran.
2. Quxiang Chan (Pertobatan melalui pertanda/kontak) ── Di dalam meditasi (Dhyana/Samadhi), memvisualisasikan pertobatan, hingga memperoleh kontak batin Buddha datang menjamah kepala, Bodhisatwa memancarkan cahaya, dan berbagai pertanda manggala lainnya, ini bertujuan untuk melenyapkan sifat dosa dari klesa (kekotoran batin).
3. Wusheng Chan (Pertobatan Ketidaklahiran) ── Duduk bermeditasi dengan hati yang lurus, mengamati prinsip ketidaklahiran, untuk melenyapkan kebodohan batin (avidya) dari Jalan Tengah.
Di dalam Lingxian Jingang Dafa (Mahasadhana Vajra Lingxian), saya pernah menyebutkan Sadhana Pertobatan Satya Buddha, sebagai berikut:
Untuk mempraktikkan "Sadhana Pertobatan", ada lima poin penting:
1. Memohon Buddha sebagai saksi ── Harus mengundang "Buddha Amitayus", "Buddha Cahaya Gemilang", "Buddha Cahaya Gaib", "Buddha Aksobhya", "Buddha Cahaya Kebajikan", "Buddha Cahaya Singa", "Buddha Cahaya Mentari", "Buddha Cahaya Jala", "Buddha Wujud Mustika", "Buddha Api Mustika", "Buddha Api Gemilang", "Buddha Cahaya Api Berkobar", "Buddha Raja Manggala Agung", "Buddha Suara Gaib", "Buddha Keagungan Gaib", "Buddha Panji Dharma", "Buddha Tubuh Agung", "Buddha Wujud Tubuh Menawan", "Buddha Cahaya Bersinar Universal", "Buddha Raja Suci Brahma", "Buddha Sifat Agung". Ini adalah mengundang 3 Buddha dari Barat, 5 Buddha dari Timur, 5 Buddha dari Selatan, dan 8 Buddha dari Utara. Secara bersama-sama mengundang 21 Buddha ini, memvisualisasikan Beliau semua hadir bersemayam di angkasa, untuk menjadi saksi atas pertobatan Anda.
2. Memancarkan cahaya melenyapkan rintangan ── Kekuatan dari 21 Buddha ini, dapat membuat pelaku karma buruk, melenyapkan dosanya dan memperoleh berkah, ini adalah pahala sejati dari 21 Buddha. Sadhaka di dalam samadhi memvisualisasikan 21 Buddha bersemayam di angkasa, setiap Buddha dari pori-pori tubuh-Nya memancarkan cahaya tak terhingga, yang terdiri dari ratusan ribu warna cahaya. Cahaya awalnya keluar dari pori-pori, kemudian memancarkan cahaya terang benderang, keduanya menjalin menjadi warna yang tak terhingga. Pancaran cahaya ini mengubah seluruh alam dari sepuluh penjuru dunia menjadi Tanah Suci Buddha, dan diri sendiri pun bersemayam dengan tenang di dalam dunia cahaya. Seluruh dunia yang penuh dengan Pancakasaya (lima kekeruhan), sepenuhnya disinari oleh cahaya Buddha.
Pancaran cahaya dari 21 Buddha ini, pertama menyinari negeri yang kotor, mengubahnya menjadi Tanah Suci. Kedua, menyinari semua makhluk, membuat makhluk yang telah berbuat sepuluh karma buruk, dosa lima anantarya (tanpa jeda), memfitnah Triratna, tidak menghormati Mulacarya, tidak berbakti pada orang tua, dan yang seharusnya jatuh ke neraka, alam preta (hantu kelaparan), serta alam binatang, semuanya memperoleh pembebasan berkat pancaran cahaya 21 Buddha. Ketiga, menyinari diri sadhaka sendiri, membuat rintangan karma (karmavarana) sendiri lenyap, berkat kekuatan adhisthana (pemberkatan) dari cahaya Buddha, semuanya memperoleh kedamaian, keindahan rupa, berbekal pahala berkah dan kebijaksanaan yang lengkap, agung layaknya Buddha, serta dapat melihat semua Buddha di sepuluh penjuru dan tiga masa.
3. Melafalkan Nama Buddha dan Mantra ── Jika sadhaka telah melihat cahaya tersebut, maka harus dengan setulus hati melafalkan nama 21 Buddha sebanyak 3 kali, kemudian melafalkan Mantra Mantra Sapta-Buddha Pelenyap Karma Buruk (Sapta Atitabuddha Karasaniya Dharani): "Li po li po di. Qiu he qiu he di. Tuo luo ni di. Ni he la di. Pi li ni di. Mo he jia di. Zhen ling qian di. Suoha." Mantra ini dilafalkan sebanyak 108 kali hingga 1080 kali.
4. Mudra dan Visualisasi ── Tangan kiri mengepal diletakkan di pinggang. Tangan kanan membuka telapak tangannya, kelima jari lurus sejajar, seolah memancarkan lima warna cahaya secara alami, telapak tangan diletakkan di depan dada.
5. Pelimpahan Jasa dan Pertobatan ── Segala rintangan karma (karmavarana) yang telah aku perbuat dari kehidupan ke kehidupan, yang seharusnya membuatku jatuh ke alam samsara, neraka, alam binatang, alam preta, atau alam asura, bahkan ke delapan tempat yang penuh rintangan/penderitaan, semuanya karena aku mempraktikkan Sadhana Pertobatan Dharma Sejati, segala rintangan karma sepenuhnya lenyap tak berbekas, dan semua pembalasan karma buruk pada masa depan tidak akan kuterima. Sama halnya seperti para Mahabodhisatwa pada masa lalu yang menjalankan praktik Bodhi, bertobat atas semua rintangan karma, aku juga mengungkapkan dan bertobat atas semua rintangan karmaku, tidak berani tidak menyatakannya. Dosa-dosa yang ada saat ini, semoga semuanya lenyap, dan kejahatan pada masa depan, tidak berani kuperbuat lagi. Secara khusus mengundang 21 Buddha sebagai saksi.
Sadhana ini merupakan Sadhana Pertobatan Dasar Zhenfo. Mereka yang mempraktikkan sadhana ini, juga mendapat dukungan kekuatan dari mempraktikkan "Sadhana Caturprayoga" dan "Sadhana Guruyoga", semua dilakukan sesuai dengan ritus, maka dengan sendirinya dapat melenyapkan rintangan dosa, dan memperoleh pahala berkah yang tak terhingga.
●
Selain itu, "Mantra Sataksara" dari Bodhisatwa Vajracitta (Jingangxin Pusa), di dalam Tantrayana Tibet, semua orang tahu bahwa itu adalah mantra agung (Mahavidya) untuk mempertobatkan dan melenyapkan rintangan dosa. "Mantra Sataksara" ini sangatlah penting.
Adapun "Mantra Sataksara" ini memiliki tiga fungsi utama:
1. Pertobatan.
2. Adhisthana (Pemberkatan) dari kelompok Buddha Lima Penjuru (Pancadhyani Buddha).
3. Menambal segala kekurangan dan kelalaian dari semua praktik ritus (Sadhana).
Saya menekankan bahwa menekuni "Sadhana Bodhisatwa Vajracitta" memiliki dua makna utama:
1. Dapat melenyapkan semua rintangan dosa sejak masa tanpa awal dan menyucikannya secara total.
2. Dapat membuat "Pengamalan Ikrar" sadhaka Zhenfo menjadi kokoh layaknya Vajra.
Sebuah gatha yang pernah saya tulis pada masa lalu, sebagai berikut:
Dharmaraja Lian Sheng mentransmisikan Mahasadhana Tantra.
Vajrasattva menjelma menjadi Vajracitta.
Keduanya melebur menjadi satu mencapai Mahayoga.
Rintangan dosa lenyap dan memperoleh kesucian sejati.
●
Mengungkapkan sebuah surat, kesaksiannya sebagai berikut:
Kepada Buddha Guru yang terhormat, Manggala:
Pada tanggal 5 November pukul 05:15 pagi, Buddha Guru hadir dalam mimpiku. Siswa berlutut di hadapan Buddha Guru dan para saudara Sedharma untuk mengungkapkan pertobatan, atas dosa pelanggaran sila pada masa lalu. Buddha Guru menggunakan sebuah pedupaan bundar, menarik keluar "Rintangan Karma" (berwajah buruk rupa, seperti monster berbadan dan berekor ikan) dari mulut siswa, di sebelahnya juga terdapat genangan darah. Siswa terus muntah, jasmani dan batin seketika terasa luar biasa ringan. Buddha Guru berkata: "Bagian dalam tubuh sudah bersih, tubuhmu juga akan menjadi lebih sehat."
Mempraktikkan Sadhana Pertobatan selama tiga bulan (setiap hari Rabu puja bakti bersama sadhana pertobatan) menghasilkan kontak yoga yang begitu luar biasa. Rasa syukur di hati siswa sama sekali tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Teringat Buddha Guru mencabut rintangan karmaku,
Setiap hari bersadhana dengan nyata untuk membalas budi Guru;
Dari kehidupan ke kehidupan selamanya mengikuti,
Hingga mencapai Kebuddhaan tidak akan pernah meninggalkan-Nya.
Namo Buddhaya!
Sujud dari siswa yang menerima budi karunia, Lian Qiang.
Membaca lebih banyak Petuah Mulia Dharmaraja, silakan klik:
https://id.tbsn.org/verse/index
Situs Web: https://id.tbsn.org
Facebook TBSN Indonesia: http://www.facebook.com/syltbsnindonesia
Facebook TBSNTV Indonesia: facebook.com/tbsntv
YouTube: http://www.youtube.com/@TBSNTVIndonesia
Tik Tok: https://www.tiktok.com/@tbsntvindonesia
Instagram: https://www.instagram.com/tbsntvindonesia

