23 Oktober 2021 Pujabakti Sadhana Yidam Guru Padmasambhava di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

23 Oktober 2021 Pujabakti Sadhana Yidam Guru Padmasambhava di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

#LiputanTBSSeattleLingShenChingTzeTemple

Hari Sabtu, 23 Oktober 2021, merupakan hari pujabakti di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple (西雅圖雷藏寺). Akhir-akhir ini peraturan terkait cegah wabah di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple semakin longgar, sehingga banyak umat dari jauh yang berdatangan untuk Berdharmayatra, suasana kembali meriah!

Tiba pukul 8 tepat, suara tabuhan gong bergema, dengan diiringi suara Mantra Padmakumara nan agung, semua menyambut dan mengundang Mulaguru Dharmaraja Liansheng untuk naik ke atas Dharmasana, memimpin pujabakti Sadhana Yidam Guru Padmasambhava (Lianhuashengdashi-蓮華生大士) dan mengulas Sutra Vajra (Jingangjing-金剛經). Saat pelimpahan jasa, Buddha Guru bersembah puja kepada Guru Padmasambhava, memohon Guru Padmasambhava mengadhisthana segenap bardo yang berjodoh maupun yang tidak berjodoh, supaya semua dapat terlahir di alam suci Buddha, serta memohon Guru Padmasambhava mengadhisthana semua umat, menolak bala, menganugerahkan berkah, dan menyingkirkan wabah.

Sebelum Berdharmadesana, terlebih dahulu Mahaguru mengisahkan cerita humor mengenai ikan dan kura-kura. Mahaguru memberi petunjuk, dalam kehidupan sehari-hari, yang paling penting adalah menjadi diri sendiri dengan sebaik-baiknya, apa pun yang Anda lakukan selalu nampak benar bagi orang yang menyukai Anda, sebaliknya, sebaik apa pun Anda berupaya, orang yang tidak menyukai Anda akan tetap merasa tidak suka, pahami hal ini.

◎ Interaksi Adalah Kekuatan – Anda Bertanya Saya Menjawab

Siswa bertanya:
Kenapa Buddha hanya sampai bhumi ke-16? Apakah kebetulan tidak ada bhumi ke-17, ke-18, ke-19?

Mahaguru menjawab:
Buddha bhumi ke-16 adalah Buddha Adharma, yaitu Adi Buddha. Seperti yang dikatakan dalam Sutra Vajra, Buddha Adharma bhumi ke-16 tidak akan mengatakan bahwa Beliau adalah bhumi ke-16. Dulu Mahaguru pernah menulis di buku, di atas Adi Buddha atau Buddha Adharma, ada Buddha bhumi ke-17, secara kolektif disebut Buddha Anaman (Tanpa Nama), semua tanpa nama, tanpa atribut, tidak berbuat, tanpa pamrih, tiada tiada, sungguh adalah: "Bukan Buddha, Bukan Hati, Bukan Benda." Dalam Sutra Nama Buddha yang Dibabarkan oleh Buddha ada sangat banyak nama Buddha yang sama, Buddha Dipankara pun ada tak terhingga banyaknya, demikian pula dengan Buddha Sakyamuni, asalkan mempunyai nama, semua berada di bawah bhumi ke-16.

Siswa bertanya:
Siswa membuka rumah duka dan menjual peti mati. Seorang sadhaka yang berbhavana dengan sangat baik, jika saat meninggal dunia tidak dikremasi, melainkan dikubur, mohon petunjuk Mahaguru, apakah mendiang sadhaka tersebut bisa menghasilkan sarira?

Mahaguru menjawab:
Ada! Anda tidak bisa mengatakan ia tidak menghasilkan sarira, setelah kremasi dihasilkan sarira, sedangkan yang dikubur, enam tahun setelah dikubur, ketika jenazah menyisakan tulang-belulang, di dalamnya juga bisa ditemukan sarira.

Siswa bertanya:
Setelah manusia meninggal dunia, ada yang abu hasil kremasinya dilarung di laut, ada juga yang disemayamkan di Ksitigarbhasala, manakah yang lebih baik untuk anak cucunya?

Mahaguru :
Kita tidak bisa menyamaratakannya, ini persoalan kebajikan leluhur. Tidak peduli dikebumikan, dikremasi, pemakaman organik, dilarung dilaut atau berbagai metode pemakaman lainnya, semua mengandung hawa bumi, yang terutama adalah melihat kebajikan Anda sendiri. Kebajikan dan moral manusia, perilakunya, semua ini bisa memengaruhi anak cucu, oleh karena itu jika kakek dan kakek buyut punya pahala, jasa kebajikannya yang akan memengaruhi anak cucu. Sebaliknya, berbuat jahat juga bisa memengaruhi keturunan. Pahala kebajikan leluhur sangat penting.

Siswa bertanya:
Jika anggota keluarga mendiang telah mengundang pakar fengsui, telah menemukan fengsui yang baik, mana yang lebih baik: Dikremasi terlebih dahulu kemudian abunya dikebumikan, atau langsung kebumikan jenazahnya tanpa kremasi? Cara yang mana yang lebih menguntungkan anak cucu?

Mahaguru menjawab:
Secara tata letak, terlebih dahulu dikremasi kemudian dikebumikan, atau langsung dikebumikan, keduanya sama. Yang paling memengaruhi anak cucu adalah kebajikan leluhur, oleh karena itu : "Jangan berbuat jahat, perbanyak perbuatan baik." inilah yang paling berpengaruh bagi anak cucu, yang lainnya seperti fengsui dan topografi adalah nomor dua. Dalam agama Buddha, menurut Buddha Sakyamuni, fengsui, topografi, astrologi, bugua, semua adalah nondharma.

◎ Dharmaraja Liansheng Mengulas Sutra Vajra

Teks Sutra:
"Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah seorang Anagami (Yang Tidak Kembali Lagi) berpikir seperti ini, ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Anagami’?"

Subhuti menjawab, "Tidak, Bhagavan. Mengapa? Anagami berarti tidak kembali lagi, namun sesungguhnya tiada Yang Tidak Kembali Lagi, oleh karena itu disebut Anagami."

Pengulasan:

Sama halnya, Anda memperoleh tingkatan Anagami, Anda tidak akan mengatakan, "Aku telah memperoleh buah tingkatan Anagami", sama seperti contoh minggu lalu, ikan di dalam air, tidak akan terus memikirkan air, sebab ia sudah terbiasa, ia baru bisa hidup di dalam air. Kita umat manusia hidup di muka bumi, tidak akan setiap hari terpikirkan udara, sebab kita telah memperoleh udara. Setelah memperoleh tingkatan Anagami, berarti adalah Anagami, tidak akan setiap hari memikirkan: "Aku adalah seorang Anagami."

"Anagami berarti tidak kembali lagi, namun sesungguhnya tiada Yang Tidak Kembali Lagi, oleh karena itu disebut Anagami." Apa yang arti dari tidak kembali? Anagami telah meninggalkan berbagai hasrat di kamadhatu, tidak kembali lagi ke dunia saha, ini adalah Arahat tingkat ketiga.

Enam surga kamadhatu adalah hasrat, oleh karena itu Anagami tidak menetap di kamadhatu, Beliau menetap di Lima Surga Suddhavasa, antara lain: Avrha, Atapa, Sudrsa, Sudarsana, dan Akanistha, semua merupakan kediaman para Arya, mereka yang tidak memiliki hasrat disebut Arya, Arahat tingkat ketiga adalah Arya, tidak akan kembali lagi ke kamadhatu.

Kenapa disebut Avrha? Terbebas dari hasrat, maka tiada lagi kerisauan batin. Anda tidak ingin memperoleh apa pun, apa yang Anda risaukan? Anda sama sekali tidak memikirkan apa pun, tiada kerisauan. Atapa berarti tiada kegelisahan. Sudrsa, yang nampak adalah pemandangan terbaik, semua serba indah dan sempurna. Sudarsana, Beliau bisa muncul di mana pun, ke mana pun yang butuh pertolongan Beliau. Anagami disebut tidak kembali lagi, berarti tidak terjebak arus kotor kamadhatu. Sesungguhnya tiada tidak kembali, Beliau masih bisa kembali ke kamadhatu untuk membimbing semua makhluk.

Arhat tingkat tiga tidak kembali lagi, tapi sesungguhnya Mereka masih kembali, di atas pendupaan Dewa Indra di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, di atas Dharmacakra Rainbow Temple, muncul Arahat tingkat ketiga, inilah "Sesungguhnya tiada tidak kembali", Beliau bisa tidak kembali, tapi kadang bisa kembali. Karena Dewata Surga Sudarsana, saat Beliau melihat kebajikan, Beliau pun muncul. Kita yang belajar Buddha mesti terbebas dari hasrat, kelak menjadi Arya.

Dharmadesana pujabakti malam hari ini diakhiri dengan kisah humor yang diceritakan oleh Dharmaraja Liansheng untuk menyampaikan makna Dharma. Di penghujung kegiatan, Mahaguru berwelas asih menganugerahkan Abhiseka Sarana kepada siswa baru, mengadhisthana Air Maha Karuna Dharani, menginisiasi rupang Buddha, serta mengadhisthana segenap umat yang menyaksikan melalui internet.

#DharmadesanaDharmarajaLiansheng
#TrueBuddhaSchool
#Padmasambhava

Yidam pujabakti minggu depan adalah #Padmakumara
#SutraVajra

----------------------------------------

Artikel lengkap Dharmadesana dapat disimak melalui situs True Buddha News (Bahasa Mandarin):
www.tbsva.org/tbnw/epaper_detail1905.html

Marilah kita saksikan berbagai ceramah Dharma berharga yang disampaikan oleh Dharmaraja Liansheng di kanal YouTube:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia

「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。 億萬虎頭金剛心咒,招財鎮煞降伏瘟疫