30 Mei 2026 Liputan Pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Amitabha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple
Oleh Lianhua Yin Yin (蓮花因茵)
Pada tanggal 30 Mei 2026, umat sedharma dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, bersama-sama menghadiri acara pujabakti mingguan. Semuanya mengendapkan pikiran dan memusatkan jiwa raga di tengah lantunan Sansekerta, bersama-sama menyambut kedatangan Dharmaraja Lian Sheng memimpin pujabakti Sadhana Istadewata Buddha Amitabha dan memberikan Dharmadesana yang berharga.
◎ Interaksi Adalah Kekuatan
Setelah pujabakti berakhir dengan sempurna, segera dilanjutkan dengan sesi Anda Bertanya Saya Menjawab.
Siswa bertanya: Siswa telah menekuni Sadhana Satya Pasak Vajra Kalacakra dan merapal Mantra Hati Kalacakra selama bertahun-tahun, meskipun belum melihat tanda-tanda kontak yoga yang jelas, tetapi merasa pemahaman terhadap makna Buddhadharma sedikit meningkat. Misalnya, uraian dari Prasangika Madhyamaka, Svatantrika Madhyamaka, Vijnanavada Batin Sejati, dan Vijnanavada Batin Palsu dapat dibaca dan dipahami secara dangkal. Siswa menyadari bahwa gagasan utama dari Sutra Surangama terletak pada mengenali Batin Sejati Terang nan Luhur yang tidak lahir dan tidak mati di antara dharma yang lahir dan mati; sedangkan Sutra Vimalakirti mengambil gagasan nondualisme sebagai inti, berpendapat bahwa samsara dan nirwana, satyasatya dan samvrtisatya, prajna dan upaya semuanya adalah nondualisme, ini juga sama seperti gagasan utama Kalacakra. Oleh karena itu, baik bersikukuh pada sunyata atau bersikukuh pada ada, keduanya agak menyimpang, kesadaran sejati seharusnya melampaui pertentangan sunyata dan ada, kembali pada nondualisme. Mohon petunjuk Dharmaraja Lian Sheng, apakah ada kesalahan dalam pemahaman siswa ini?
Dharmaraja Lian Sheng menjawab:
Zaman ketika Buddha dan sepuluh siswa utama hidup di dunia, disebut Buddhisme awal, setelah itu muncullah Buddhisme sektarian, yang terbagi menjadi Sthaviravada dan Mahasamghika. Sthaviravada atau Hinayana berpendapat bahwa Buddha hanya ada satu, yaitu Buddha Sakyamuni, sedangkan Mahasamghika atau Mahayana berpendapat bahwa batin, Buddha, dan semua makhluk ketiganya tiada perbedaan, semua makhluk dapat menjadi Buddha, oleh karena itu ada banyak Buddha. Hinayana mengutamakan manfaat diri sendiri, menitikberatkan pada bhavana pribadi, Mahayana selain manfaat diri sendiri, juga ada manfaat bagi makhluk lain, yaitu mempraktikkan jalan Bodhisatwa untuk memberikan manfaat bagi semua makhluk, pada akhirnya pencerahan dan praktik mencapai kesempurnaan lalu menjadi Buddha.
Siswa ini berpendapat bahwa delapan belas dhatu yang tersusun dari enam indra, enam objek indra, dan enam kesadaran mengalami lahir dan mati, sedangkan Batin Sejati Terang nan Luhur tiada lahir dan tiada mati. Saya sudah pernah membicarakannya, sama seperti akasa, akasa pada dasarnya tidak lahir dan tidak mati, sedangkan awan, hujan, hari cerah, hari mendung, petir, guntur, dan hujan es, semuanya mengalami lahir dan mati. Kita manusia mengalami lahir dan mati, tetapi Buddhata adalah tidak lahir dan tidak mati.
Dia berpendapat bahwa kekosongan mutlak, pandangan kekosongan yang lain, pandangan nihilisme diri, dan keberadaan tertinggi, masing-masing jatuh ke satu sisi, saya melihat hal-hal ini dalam penelitian akademis boleh saja dilakukan, tetapi dalam bhavana yang sebenarnya, semua ini tidak perlu terlalu berlebihan. Misalnya mengatakan nondualisme adalah satu yang mutlak, ini masih sekadar mempermainkan kata-kata saja, lalu satu itu apa? Jika mengatakan satu adalah nol, lalu nol itu apa lagi? Sunyata itu apa lagi? Jika terus ditanyakan seperti ini, tidak akan ada ujungnya. Bagian terdalam dari Buddhadharma, sama sekali tidak dapat diungkapkan sepenuhnya dengan mengandalkan teks dan bahasa.
Sutra Vimalakirti sebagai contoh, ketika Bodhisatwa Manjusri membabarkan metode Dharma nondualisme, Beliau membabarkan tanpa kata-kata tanpa ucapan, tanpa petunjuk tanpa kesadaran, menjauhi semua tanya jawab, sedangkan Vimalakirti justru tidak mengucapkan sepatah kata pun. Satu keheningan Vimalakirti, justru menunjukkan bahwa metode Dharma nondualisme bukanlah alam yang dapat diungkapkan oleh bahasa teks.
Batin Sejati Terang nan Luhur bukanlah teks, juga bukan bahasa, begitu tingkat kesejatian diucapkan, maka langsung jatuh ke dalam perbedaan bahasa, oleh karena itu Vimalakirti tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan demikian, justru paling mengungkapkan makna sejati dari metode Dharma nondualisme.
◎ Pengulasan Sutra Surangama
“Oleh dua jenis wujud yang saling membentuk seperti terang dan gelap, di dalam kesempurnaan nan luhur ia melekat pada kebeningan dan memunculkan penglihatan, esensi penglihatan memantulkan rupa, menggumpalkan rupa membentuk indra.”
“Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta yang murni, karena itu dinamakan tubuh mata, seperti wujud buah anggur. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar rupa.”
“Oleh dua jenis wujud yang saling berbenturan seperti bergerak dan diam, di dalam kesempurnaan nan luhur ia melekat pada kebeningan dan memunculkan pendengaran, esensi pendengaran memantulkan suara, menggulung suara membentuk indra.”
“Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta yang murni, karena itu dinamakan tubuh telinga, seperti daun baru yang menggulung. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar suara.”
“Oleh dua jenis wujud yang saling memicu seperti lancar dan tersumbat, di dalam kesempurnaan nan luhur ia melekat pada kebeningan dan memunculkan penciuman.”
“Esensi penciuman memantulkan bau, menyerap bau membentuk indra. Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta yang murni, karena itu dinamakan tubuh hidung, seperti sepasang cakar yang menjuntai. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar bau.”
Pengulasan :
“Oleh dua jenis wujud yang saling membentuk seperti terang dan gelap, di dalam kesempurnaan nan luhur ia melekat pada kebeningan dan memunculkan penglihatan, esensi penglihatan memantulkan rupa, menggumpalkan rupa membentuk indra. Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta yang murni, karena itu dinamakan tubuh mata, seperti wujud buah anggur. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar rupa.”
Karena ada terang dan gelap, mata Anda baru dapat melihat sesuatu, teks Sutra menggambarkan mata seperti wujud buah anggur, yaitu seperti buah anggur. Bhavana adalah harus melihat ke dalam, melihat Batin Sejati Terang nan Luhur Anda, dan bukan mengejar debu rupa ke luar, dibutakan oleh pemandangan di luar.
“Oleh dua jenis wujud yang saling berbenturan seperti bergerak dan diam, di dalam kesempurnaan nan luhur ia melekat pada kebeningan dan memunculkan pendengaran, esensi pendengaran memantulkan suara, menggulung suara membentuk indra. Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta yang murni, karena itu dinamakan tubuh telinga, seperti daun baru yang menggulung. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar suara.”
Oleh saling berbenturannya bergerak dan diam, sebagai contoh saya berbicara, suara telah menghasilkan gerakan, yaitu gelombang suara, telinga Anda pun mendengarnya. Jika saya tidak berbicara, Anda pun tidak mendengar apa-apa. Oleh karena itu suara berbicara juga akan memengaruhi Anda, yaitu suara di luar telah menarik perhatian telinga Anda.
Seperti daun baru yang menggulung, telinga seperti daun teratai yang baru mekar dan sedikit menggulung. Saya merasa seperti posisi terbalik seorang bayi di dalam rahim ibu. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar suara, batin manusia sering berlari mengikuti suara, mendengar kata-kata fitnahan, di dalam batin segera timbul niat marah; mendengar kata-kata pujian, batin kembali timbul sukacita, bahkan ketika mendengar musik yang merdu, tubuh juga akan berayun mengikuti irama ingin menari, ini menunjukkan batin kita sudah ditarik oleh suara.
“Oleh dua jenis wujud yang saling memicu seperti lancar dan tersumbat, di dalam kesempurnaan nan luhur ia melekat pada kebeningan dan memunculkan penciuman. Esensi penciuman memantulkan bau, menyerap bau membentuk indra. Asal mula indra ini disebut sebagai caturmahabhuta yang murni, karena itu dinamakan tubuh hidung, seperti sepasang cakar yang menjuntai. Empat debu indra yang mengambang, mengalir keluar mengejar bau.”
Lancar dan tersumbat adalah fungsi hidung, saat lancar dapat mencium bau, saat tersumbat maka tidak bisa. Anda suka mencium yang harum, tidak suka mencium yang bau, itu adalah fungsi indra penciuman. Menyerap bau membentuk indra, indra hidung menerima bau dari dunia luar, menghasilkan perbedaan antara harum dan bau. Seperti sepasang cakar yang menjuntai, ini merujuk pada bentuk hidung seperti dua cakar yang menjuntai ke bawah.
Teks Sutra menyebutkan kata melekat pada kebeningan, artinya Batin Sejati Terang nan Luhur yang pada dasarnya suci, direkatkan oleh fungsi enam indra seperti mata, telinga, dan hidung, seolah-olah akasa pada dasarnya tidak ada apa-apa, tetapi setelah fenomena seperti awan, angin, hujan, dan petir ini muncul, kita mengira akasa memiliki sesuatu, padahal akasa itu sendiri sama sekali tidak berubah, akasa sama sekali tidak memiliki apa pun.
Bagaimana hidung harus melakukan bhavana? Dalam Tantra, hidung dan melatih prana memiliki hubungan yang sangat besar. Hidung adalah pintu masuk dan keluarnya prana, kita melatih prana, kundalini, dan yoga semuanya harus mengandalkan pernapasan untuk dilaksanakan, bagaimana prana masuk dan keluar, panjang dan pendeknya, serta berhenti di mana, semuanya memiliki metode dan aturan tertentu.
Dharmaraja Lian Sheng menjelaskan secara bertahap bagaimana enam indra karena kondisi luar lalu melahirkan perbedaan, menunjukkan bahwa bhavana seharusnya memusatkan enam indra kembali pada Batin Sejati Terang nan Luhur yang dimiliki pada dasarnya.
Setelah itu, Dharmaraja Lian Sheng memberkati air Maha Karuna Dharani serta mengabhiseka pratima Buddha. Adhisthana vyajana-camara dari Dharmaraja Lian Sheng kepada semua yang hadir, menyempurnakan pujabakti malam itu.
---------------------------------------------------------
Siaran langsung pujabakti Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu, pukul 10:00 WIB
Siaran langsung upacara homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin, pukul 05:00 WIB
Tautan pendaftaran upacara di Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/Donate
Zoom partisipasi Upacara Homa Rainbow Temple:
https://tbs-rainbow.org/雲端視訊
Tautan Siaran Langsung (bahasa Mandarin):
https://www.youtube.com/channel/UCTQqhVgp94Vf7KTrANN8Xpw
Tautan Siaran Langsung (bahasa Inggris):
https://www.youtube.com/@tbsseattle.orgenglishstrea3035/feature
Alamat Tbboyeh:
https://www.tbboyeh.org
Kumpulan Video Pembabaran Dharma Dharmaraja Liansheng
TBSNTV bahasa Indonesia:
https://youtube.com/c/TBSNTVIndonesia