Saya pribadi berpendapat, terhadap Guru sendiri, kita mesti memandangnya sama seperti Buddha. Penghormatan kepada Guru timbul dari lubuk hati Anda sendiri, dengan demikian barulah Anda akan menghargai ajaran yang ditransmisikan oleh Guru.


Dalam ‘Sutra Abhiseka Vajrapani’ disebutkan, “Bagaimana seharusnya para siswa Vajrayana memandang Sang Guru? Vajrapani menjawab, memandangnya laksana Buddha Bhagavan.” Bhagavan adalah Buddha, mesti dipandang sebagai Buddha.


Je Tsongkhapa mengulas 4 macam ‘Sikap batin pengabdian kepada Guru’, yang pertama adalah sikap batin anak berbakti, kemudian adalah sikap batin bumi, sikap batin seorang abdi, dan sikap batin seperti sebuah perahu.


Dalam Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, Guru Sesepuh Tsongkhapa menyebutkan empat jenis sikap batin Abdiguru.

Dalam mengabdi kepada Guru, yang pertama dalah sikap batin anak yang berbakti. Di zaman dahulu ada kisah mengenai anak yang berbakti, sedangkan zaman sekarang justru berbakti kepada anak (Mahaguru tertawa). Bukan anak yang berbakti kepada ayah dan ibu, melainkan orang tua yang berbakti kepada anak. Zaman sekarang dan zaman dahulu saling bertolak belakang.


Bagi Buddha dan Bodhisattva yang sesungguhnya tidak ada tingkat pencapaian apa pun, Ia tidak akan berdiam pada satu tingkat pencapaian. Oleh karena itu, dalam Tantra, ada banyak Rinpoche yang menitis dari satu kelahiran ke kelahiran yang lain, untuk apa ? Ia datang untuk membabarkan Dharma, untuk menyeberangkan para insan, dan tidak akan berdiam pada tingkat pencapaiannya.


「一生一咒」800萬遍上師心咒活動,從今年師尊的佛誕日正式啟動,請參加者到TBSN官網以下鏈接登記資料: 每持滿十萬遍上師心咒者,宗委會將把名單呈給師尊加持。每持滿一百萬遍者,將列名護摩法會功德主,資料請師尊主壇護摩法會時下護摩爐。